MEMBERSHIP Pendaftaran membership FC Barcelona Indonesia secara online, disini. Tanya-tanya bisa langsung melalui forum di sini.        Next Match - Friendly: OGC Nice vs FC Barcelona. Minggu, 3 Agustus 2014. Jam 01:45 WIB.        Last Match - Liga: Recreativo Huelva 0-1 FC Barcelona. Gol oleh Joan Roman 66'.        Luis Suarez resmi menjadi pemain Barcelona dengan transfer sebesar 75 juta Poundsterling.        Kritik, saran, dan keluhan dapat disalurkan melalui forum disini.
Prakata
by Admin

Visca Barca,

Selamat datang di web FC.Barcelona Indonesia bagi pecinta sepakbola khususnya para penggemar Barcelona. Maksud dan tujuan website ini adalah untuk mempererat tali persaudaraan sesama pendukung Barcelona dalam berinteraksi, berbagi info dan berdiskusi mengenai berbagai hal menyangkut klub kebanggaan kita bersama. Forum yang ada juga kami upayakan agar bisa menjadi sarana one stop shopping bagi para pendukung untuk mengakses berbagai macam hal mengenai FC.Barcelona, kami menyadari masih banyak kekurangan dan berbagai perbaikan yang mungkin masih perlu dilakukan demi penyempurnaan website kita bersama ini, saran dan kritikan akan kami terima untuk kebaikan website ini.

Semoga website ini bermanfaat bagi kita sesama para penggemar Barcelona dan kecintaan kita terhadap sepakbola. Sekian dan terima kasih.

FIDELITAT BLAUGRANA SENSE LIMITS, SOMOS LOS MEJORES, VISCA BARCA.

Siaga Semua Lini, Barca!
primsa - Sabtu, 17 Mei 2014 - 11:45.

Jelang “Final” Primera Liga

Mungkin, saat setahun lalu melakukan penjadwalan La Liga musim 2013-14, tak banyak yang memprediksi bahwa partai penentu juara adalah pertemuan langsung antara dua kandidat pada pekan terakhir La Liga. Menilik ketimpangan prestasi antara dua tim ibukota, pantaslah bila di awal perjalanan liga, lebih banyak orang yang menganggap pertemuan FC Barcelona kontra Atletico Madrid adalah batu sandungan yang dapat menghadang Barca untuk mencegah tim lainnya dari kota Madrid meraih gelar juara. Nyatanya, Atletico Madrid sendirilah yang “meminta” gelar tersebut, dalam laga La Liga pekan ke-38 antara Barca menjamu Atletico di Stadion Nou Camp, hari Sabtu, 17 Mei 2014, malam nanti.

Atletico menjelma menjadi kekuatan baru di musim ini. Kekuatan yang diidentikkan pada Atletico bukanlah sebuah citra mengerikan, menghancurkan, atau kemampuan menguasai lawan. Berguru kepada lugasnya sang pelatih, Diego Simeone, pada saat masih bermain, Atletico menjelma menjadi sebuah ketangguhan, kekompakan dan disiplin. Pertandingan-pertandingan besar yang dijalani Atletico diibaratkan sebagai sebuah pertarungan yang alot. Ibarat sebuah permainan catur, pergeseran bidak-bidak di garis depan saja kadang sudah cukup menghambat pergerakan benteng, kuda atau gajah lawan. Tak heranlah bila akhirnya sangat sulit bagi tim-tim besar memperoleh ruang tembak langsung di depan gawang Thibaut Courtois.

Belajar dari pengalaman pertemuan-pertemuan sebelumnya antara Barca dan Atletico, prediksi selisih gol yang tipis sangat wajar dimunculkan. Total, hanya ada lima gol yang dicetak kedua kubu dalam lima pertemuan mereka. Malahan, dari total lima gol tersebut, Atletico mencetak lebih banyak, yakni tiga buah. Artinya, betapa sulit bagi Barca untuk melesakkan bola ke gawang Courtois.

Dengan klasemen yang menyisakan tiga poin sebagai jarak antara Atletico dan Barca, pendekatan yang dilakukan kedua tim terhadap pertandingan nanti akan sangat berbeda. Atletico akan “selesai” bila kalah, tapi mereka tidak butuh kemenangan. Sebaliknya bagi Barca, tiga poin wajib dicapai. Tidak ada kebutuhan akan selisih gol, karena La Liga mengedepankan aturan head-to-head sebagai penentu peringkat bila ada dua tim yang berakhir dengan nilai yang sama.

Karena ketiadaan urgensi atas selisih gol tersebut, maka bisa dibayangkan bahwa sebuah gol pembuka, entah dari tim tuan rumah ataupun tamu, sudah cukup memutar penuh tensi permainan bagi tim yang kebobolan. Sebaliknya, bagi tim yang mencetak gol pembuka, ini akan menjadi waktu yang tepat untuk memperlambat tempo, bermain psikologis dengan berharap amarah yang membuncah dari tim lawan justru membuka celah di pertahanan mereka sendiri.

Lalu siapakah yang nantinya akan mencetak gol pembuka? Tak ada jawaban pasti karena bola itu bundar. Tapi, karena kebutuhan untuk menang terdapat di sisi Barca, maka dapat dikatakan bahwa Barca akan menjadi tim yang paling berusaha keras mencetak gol pembuka. Lebih banyak mengumpan, lebih banyak berlari, lebih banyak menembak akan menjadi opsi satu-satunya yang dimiliki Barca. Serangan demi serangan akan berusaha dialirkan sederas mungkin ke kotak penalti lawan. Peran para penggedor sangat diharapkan untuk mengambil posisi tembak, tumpuan berlari dan pancingan bagi bek lawan ke luar area yang dijaganya. Neymar Junior, Lionel Messi dan Alexis Sanchez sejatinya sangat tepat dikombinasikan dalam kondisi seperti sekarang.

Setelah ketiganya, jangan lupakan peran penting Xavi Hernandez dan Andres Iniesta. Ketika lini depan Barca mengupayakan segala macam cara untuk menusuk pertahanan Atletico, pengaturan tempo oleh Xavi dan umpan-umpan dari Iniesta menjadi alternatif terbaik untuk menyabarkan punggawa-punggawa Barca kala terdesak waktu untuk menyusun serangan kembali. Bagaimanapun, sepanjang Barca belum berhasil mencetak gol, kubu Atletico akan berpuas di diri bertahan di belakang sambil memancing emosi Barca mengalahkan skema serangan mereka sendiri.

Perihal Atletico yang tidak memiliki urgensi memenangkan pertandingan, Simeone bisa saja memajang lima gelandang sebagai starter, atau menurunkan Diego Costa dan David Villa sekaligus, dengan menarik Costa lebih ke pinggir untuk mengusik bek kanan Barca, Dani Alves. Formasi 4-5-1 menjadi formula andalan Atletico untuk mengamankan satu poin dari Nou Camp. Pilihan apapun yang diterapkan oleh Atletico, orientasi untuk mencuri peluang lewat sisi pinggir yang ditinggalkan para bek sayap Barca akan dimaksimalkan.

Di sisi Barca, yang sangat perlu bertindak waspada adalah lini belakang. Ketiadaan bek-bek tangguh seperti Gerard Pique, Carles Puyol dan Jordi Alba ditambah kiper utama Victor Valdes, menambah suram prospek kawalan pertahanan kala Barca asyik menyerang. Apalagi, kombinasi Marc Bartra dan Javier Mascherano belum teruji betul ketangguhannya. Pelatih Barca, Gerardo “Tata” Martino harus cerdik menempatkan kedua bek ini. Secara fisik, Bartra lebih pas mengawal Costa, sementara Mascherano bagi Villa. Tapi ingat, pergerakan penyerang lebih dinamis dibanding pergeseran bek tengah. Bila gelandang bertahan Sergio Busquets tak ikut membantu, bisa jadi serangan menggebu-gebu Barca berujung bumerang di lini pertahanan sendiri.

Barca dan Atletico pasti sudah berhitung cermat untuk mengamankan laga ini. Bagaimanapun, begitu gentingnya laga ini tak terlepas dari kelengahan kedua tim dalam dua bulan terakhir dengan melepas begitu banyak poin-poin melawan tim-tim semenjana. Kini, mereka harus menjalani penghakiman terakhir mereka atas kegagalan mendulang poin sebelumnya. Siapa yang tertawa terakhir? Semoga Barca jawabnya.

Jornada 38 La Liga 2013-14:

FC Barcelona vs Atletico Madrid

Venue : Stadion Nou Camp, Barcelona

Wasit : Antonio Mateu Lahoz

Perkiraan pemain:

FC Barcelona (4-3-3): Pinto; Alves, Bartra, Mascherano, Adriano; Busquets, Xavi, Iniesta; Sanchez, Messi, Neymar

Atletico Madrid (4-5-1): Courtois, Juanfran, Miranda, Godin, Luis; Koke, Tiago, Gabi, Turan, Costa; Villa

Visca Barca!

Kata kunci: ,

Menghindari Lelucon Akhir Musim
primsa - Minggu, 11 Mei 2014 - 17:05.

Menyerupai kondisi yang sama di Liga Inggris, Liga Spanyol atau yang biasa dikenal sebagai La Liga tampaknya juga bakal menelurkan nama pemenang kompetisi di pekan terakhir. Tiga tim di tanah para matador saat ini sedang berpikir keras menyusun strategi bagaimana mengoptimalkan enam poin dari dua laga tersisa yang masing-masing mereka miliki. Khusus bagi duet ibukota, Real Madrid dan Atletico Madrid, konsentrasi memenangkan La Liga pasti terpecah dengan jadwal final Liga Champions di Lisbon, Portugal pada hari Sabtu, 24 Mei nanti.

La Liga musim ini memberikan bonus tak terkira bagi para pencintanya, sebuah ketegangan memuncak yang dilakoni oleh lebih dari dua kuda pacu utama, Madrid dan FC Barcelona. Kehadiran Atletico di tengah-tengah rivalitas Los Blancos (sebutan bagi Madrid) dan Los Azulgranas (sebutan bagi Barca) tadinya tidak banyak diprediksi akan berlangsung hingga akhir musim. Pamungkas atau tidaknya Los Colchoneros (sebutan bagi Atletico) dengan raihan dua trofi dalam tiga pekan ke depan tidak akan bisa menyangkal sebuah tesis lama bahwa pelatih dengan pengalaman bermain di klub yang sama memiliki motivasi berlebih dalam membangun kekuatan timnya. Barca sudah mereguk manisnya buah dari tesis ini dalam periode singkat 2008-2012.

Ditukangi oleh pelatih yang sama sekali belum pernah melatih sebuah klub Eropa manapun, Barca berjuang keras mencari bentuk. Bentuk apapun sepertinya sedang dan masih dalam tahap pemodelan oleh arsitek Barca, Gerardo “Tata” Martino. Mulai dari komposisi pemain (terutama di lini tengah dan depan) dalam daftar starting-eleven, pengejawantahan kas klub dalam bursa transfer, serta gaya bermain yang sedikit melenceng dari profil pemain-pemain yang sudah ada, belum menunjukkan nilai optimum di tangan Tata. Padahal skuad yang nyaris sama persis pernah mengangkat puluhan piala dalam lima tahun terakhir.

Sempat tampil sangat meyakinkan di awal musim, pilihan-pilihan teknis yang diambil Tata akhirnya tidak memberikan hasil maksimal di paruh kedua musim. Padahal pendekatan yang diterapkan Tata adalah sesuatu yang normatif unggul dalam dunia sepakbola. Misalnya: ke”nekat”annya untuk mengganti bintang Barca, Lionel Messi, di tengah laga, atau bahkan membangkucadangkannya sama sekali. Alasannya sederhana saja, Tata belajar dari betapa loyonya Messi dalam proses penciptaan rekor gol Liga Champions musim lalu di Stadion Camp Nou dan Allianz Arena. Idealnya, dengan lebih banyak diistirahatkan, Messi tampil lebih beringas saat ditampilkan penuh.

Menyalahkan kebangkitan kompetitor sebagai penyebab surutnya perolehan nilai Barca dalam klasemen La Liga sepertinya juga bukan hal yang bijak. Buktinya, Barca sukses membantai Madrid home and away. Sementara dengan Atletico, kegagalan Barca tidak terjadi di ajang La Liga, atau setidaknya belum dapat dianalisa penuh pada posisi ini karena masih ada satu pertemuan tersisa di antara mereka. Dan kini nyatalah, bahwa kehilangan poin yang acap dialami Barca justru terjadi kala melawan tim-tim medioker. Laksana aksi Robinhood yang melegenda dari hutan Sherwood, Barca mampu tampil trengginas melawan tim besar, namun malah “bersikap dermawan” terhadap tim-tim lemah. Barca menjadi distributor nilai antar kasta.

Dengan bahasa yang lebih konkret, Barca musim ini kehilangan satu konsep penting dalam mengarungi sebuah perjalanan: konsistensi. Jarak antara Barca dengan Atletico dan Madrid yang sempat menurun drastis dalam dua bulan pertama tahun ini menurunkan suasana psikologis tim asal provinsi Catalanoia ini. Kepercayaan diri itu tumbuh lagi kala Barca memenangkan El-Clasico kedua di musim ini pada akhir Maret 2014. Sempat di atas angin setelahnya, Barca malah mengukir rekor negatif dengan tiga kekalahan beruntun di tiga ajang berbeda di bulan April 2014. Semangat para punggawa Barca pun remuk redam di titik ini.

Layaknya dinamika hidup yang kadang memberikan maaf bagi mereka yang pernah gagal dan ingin mencoba lagi, Barca seperti diberi kesempatan lagi untuk menghapus dosa-dosa di pertandingan sebelumnya. Kegagalan Madrid memaksimalkan tabungan pertandingannya kala melawan Real Valladolid telah membawa sebuah konsekuensi baru dalam percaturan La Liga bagi Barca, yakni bahwa Barca bisa menentukan sendiri nasibnya. Tentu saja kesempatan ini sangat mahal untuk digenggam di kala jumlah pertandingan tersisa sudah sangat tipis. Bagaimanapun menentukan nasib sendiri jauh lebih mudah dibanding menunggu durian runtuh lewat kegagalan rival meraih angka.

Dua pertandingan tersisa akan dilakoni Barca dengan penuh konsentrasi. Tidak ada jadwal lain yang mengganggu persiapan melawan Elche dan Atletico Madrid. Akan sangat lucu dan tidak menarik bila Barca yang sudah memiliki kembali peluang emas menjadi juara, malah justru gagal mendulang poin penuh di pekan ke-37 misalnya. Hal ini bukan saja terkait kesenjangan prestasi antara Barca dan Elche, namun dikarenakan nafas juara Barca sebenarnya sudah nyaris berhenti sebelum dalam hitungan dua pekan ke belakang. Maka, kini menjadi tugas berat bagi Tata, memaksimalkan nilai penuh dari 180 menit tersisa. Tak ada lagi ruang bagi Tata untuk menyajikan lelucon kegagalan meraih nilai penuh dan trofi juara, sekalipun itu tanpa pilar utama seperti kiper Victor Valdes.

Visca Barca!

Selamat Madrid, Terima Kasih Tata!
initialsatsat - Kamis, 17 April 2014 - 10:08.

Rival Barcelona dalam perburuan gelar di ajang Copa Del Rey 2013/2014 berhasil meraih trophi tersebut setelah menang 1-2 di Estadio Mestalla, Valencia kamis dinihari. Real Madrid berhasil mengangkat trophi setelah mengalahkan FC Barcelona di hadapan sekitar 55 ribu penonton yang memadati stadion milik klub Valencia ini. Unggul di babak pertama lewat gol Angel di Maria melalui serangan balik yang cepat, Barca hanya bisa membalas lewat gol di babak kedua melalui proses bola mati (corner kick) Xavi yang berhasil disundul dengan baik oleh Marc Bartra. Sebelum akhirnya sprint luar biasa dari pemain termahal dunia yang berhasil membuat Bartra pontang-panting dan berhasil mencetak gol kemenangan untuk memberikan gelar ke-19 di ajang Copa Del Rey bagi tim asal ibukota ini.

Jika Ramos menyebut kemenangan timnya dinihari tadi adalah hari yang ajaib bagi Real Madrid, tidak sama halnya dengan apa yang para punggawa Blaugrana rasakan. Dinihari tadi adalah puncak dari 7 hari yang menyesakkan bagi klub kebanggaan masyarakat Catalunya ini. Dalam sepekan, tiga kali kekalahan beruntun dalam tiga ajang yang berbeda menghadapkan Barcelona dalam kenyataan pahit, yakni tersingkir dari ajang liga champion, semakin berat untuk bersaing di gelaran Primera Liga Spanyol dan puncaknya dinihari tadi saat Barca kehilangan kesempatan untuk meraih trophi di ajang Copa Del Rey. Barca yang tampil perkasa di awal musim seakan menguap daya ledaknya mendekati akhir musim 2013/2014. Berbeda dengan rival yang memang sejak awal musim hingga saat ini selalu bermain konsisten dalam setiap pertandingan.

Kekalahan pertama bagi Tata Martino yang selalu berhasil menang dalam dua edisi Clasico sebelumnya di musim ini. Memainkan formasi tanpa perbedaan berarti disaat dia tahu bahwa formasi tersebut adalah formasi yang menyebabkan kita kehilangan gelar dalam seminggu terakhir.  Bermain dengan Neymar dan Fabregas sebagai starter dan tetap memainkan Messi di sisi kanan. Belum lagi mencadangkan Alexis, salah satu dari tiga pemain kita (Iniesta dan Messi) musim ini yang berada dalam performa puncak. Kita tidak bisa menyalahkan Bartra karena kurang cepat untuk gol kemenangan yang dicetak oleh Gareth Bale. Jika menit bermainnya cukup maka akan tinggi pula pengalamannya, dan dalam posisi seperti tadi, maka Bartra bisa kita pastikan akan melanggar Bale demi mengamankan posisi tim. Tak heran banyak yang memprediksikan bahwa Tata Martino akan out musim depan.

Jika Tata bisa memilih, mungkin kemenangan di partai puncak Copa del Rey dinihari tadi akan dipilihnya, karena apapun hasilnya kalah di partai puncak dalam ajang perebutan trophi melawan rival sangatlah berbeda gregetnya. Meski rumor yang beredar posisi Tata masih aman di Barcelona setelah kekalahan dalam laga final tadi, apa yang sudah dilakukan oleh Tata Martino di musim ini wajib kita apresiasi apapun pencapaian Barca di akhir musim ini. Masih ada lima laga sisa penentuan di ajang Primera Liga. Meski kesempatan itu kecil, pastinya Tata Martino dan para pemain akan habis-habisan dalam kesempatan terakhir yang mereka miliki di musim ini. Kesempatan terakhir, jika tidak Barca akan mengakhiri musim ini tanpa gelar.

Kekalahan yang pahit bagi para punggawa tim, bukan karena kita kalah melawan rival dalam prosesnya, tetapi para pemain tahu bahwa dinihari tadi adalah satu-satunya kesempatan yang realistis untuk medapatkan gelar di musim ini. Tetapi dalam perjalanannya, lagi-lagi tim tidak punya rencana apapun dalam memainkan sepakbola mereka. Ya, Tata Martino dan tim bisa dibilang gagal dalam menciptakan rencana demi merebut trophi pada pertandingan dinihari tadi. Dengan segala hormat untuk rival kami, kenyataan bahwa tim hanya bisa mencetak gol tunggal melalui bola mati (sundulan) cukup untuk menggambarkan bahwa Barca saat ini dalam titik yang krusial dalam segi memainkan sepakbola mereka. Bukan karena lawan lebih kuat, lebih konsisten atau lebih beruntung. Semoga klub bisa mengembalikan gairah para punggawa Barca saat ini untuk musim depan yang lebih cemerlang.

Selamat Real Madrid! Visca y Som-Hi Barca!!

Final Copa Del Rey 2013/2014

FC Barcelona 1-2 Real Madrid

Gol : Angel Di Maria (’11), Marc Bartra (’68), Gareth Bale (’85)

Venue : Estadio Mestalla Valencia (55,000)

Wasit : Antonia Matheu Lahoz

Susunan Pemain :

FC Barcelona (4-3-2-1) : Pinto, Dani Alves, Marc Bartra(’86 Alexis Sanchez), Mascherano, Jordi Alba-cedera hamstring- (’46 Adriano), Xavi Hernandez, Sergio Busquets, Andres Iniesta, Neymar, Lionel Messi, Cesc Fabregas(’60 Pedro Rodriguez)

Real Madrid (4-3-2-1) : Casillas, Ramos, Pepe, Coentrao, Carvajal, Xabi Alonso, Modric, Isco(’89 Casemiro), di Maria(’86 Illaramendi), Bale, Benzema(’90 Varane)

Kata kunci: , , ,

Klimaks atau Antiklimaks, Barca?
primsa - Rabu, 16 April 2014 - 9:23.

Tak ada yang menyangka kalau FC Barcelona akan berubah drastis peruntungannya dalam seminggu ini. Dua gol dari dua tim berbeda mengubah mimpi indah Barca mengakhiri musim dengan treble. Kini perjalanan Barca bisa jadi mencapai klimaksnya dalam laga final Copa del Rey 2013-14 yang akan digelar pada 16 April 2014 malam hari waktu kota Valencia. Laga yang akan digelar di Stadion Mestalla ini akan mempertemukan Barca dengan rival abadinya, Real Madrid.

Lawan yang akan dihadapi di final nanti tidaklah asing bagi Barca. Terlalu banyak sejarah yang bisa diulas sejak kedua tim berdiri sebagai sebuah identitas sepakbola bagi komunitas yang mengagungkannya. Dalam semusim, tak jarang pula kedua tim bertemu empat sampai lima kali, sebuah frekuensi yang menandakan tancapan kuku keduanya di banyak kompetisi adalah hal lumrah. Uniknya, walaupun ajang Copa del Rey yang akan mempertemukan keduanya nanti adalah ajang non-premium, keduanya belakangan cukup intens bertemu di babak-babak akhir turnamen, entah itu semifinal ataupun final.

Bila bukan karena kedua kekalahan terakhir, judul artikel ini pastilah sudah melenceng dari keadaan terkini Barca. Namun dengan kegagalan Barca mengamankan tiket semifinal Liga Champions dari genggaman Atletico Madrid dan tiga poin krusial dari tangan Granada, klimaks ataupun antiklimaks perjalanan Barca di musim ini bisa tersaji di laga final Copa del Rey ini.

Secara realistis, dari dua peluang gelar tersisa, Copa del Rey membutuhkan usaha yang lebih minimal dibanding La Liga. Coba bandingkan berapa jumlah menit yang harus dibutuhkan Barca untuk meraih trofi Copa del Rey dibandingkan muncul sebagai kampiun La Liga. Ini belum ditambah dengan kondisi tambahan yang mengharuskan dua tim lain di tiga besar, Real Madrid dan Atletico Madrid, tergelincir di pekan-pekan berikut La Liga.

Terkait lawan yang dihadapi nanti, sebuah kenangan indah juga akan berhasil dicatat pelatih Barca, Gerardo “Tata” Martino bila kembali mampu memimpin pasukannya membantai Madrid. Tak semua pendahulunya berhasil mengalahkan Madrid di laga home and away. Apalagi dengan adanya kesempatan ketiga bertemu Madrid, maka peluang Tata mencatat hat-trick El-Clasico dalam musim pertamanya melatih akan semakin meningkatkan nama baiknya.

Tapi segala peluang klimaks tersebut juga beresiko terjadinya antiklimaks bagi Barca. Disebut antiklimaks karena di luar Piala Super Raja Spanyol yang direngkuhnya musim lalu, ternyata Barca musim ini tidak cukup tangguh untuk mengarungi musim yang berat dan mengakhirinya dengan sebuah trofi. Setelah sempat sangat difavoritkan untuk menjadi juara La Liga setelah mengalahkan Madrid bulan lalu dan memastikan tiket perempat final Liga Champions lewat kemenangan meyakinkan atas Manchester City di bulan yang sama, ternyata armada perang Barca seperti kehabisan bahan bakar. Kekalahan-kekalahan tak terduga menghampiri tim ini dari tim-tim semenjana.

Terkait kekalahan-kekalahan yang sudah dideritanya, keadaan yang dialami Barca sekarang sudah pernah terjadi pada periode 26 November 2013 – 1 Desember 2013. Kala itu Barca kalah berturut di Liga Champions dari Ajax Amsterdam dan di La Liga melawan Atletico Bilbao. Untungnya kekalahan di masa tersebut hanya terjadi dua kali saja secara berturut-turut. Kondisi yang terjadi sekarang lebih parah. Barca dua kali kalah tanpa mencetak satu gol pun. Akankah Barca kembali kalah untuk ketigakalinya secara berturut-turut? Atau yang lebih telak lagi, akankah kekalahan Barca akan berupa nirgol pula ke gawang lawan untuk ketigakalinya secara berturut-turut? Terlalu banyak rekor negatif yang berpotensi terpecahkan.

Membaca arah perjalanan Barca di pertandingan nanti, faktor kunci yang perlu diperhatikan adalah bagaimana menutup lubang di lini belakang. Sekalipun ketidakpercayaan kita terhadap kegagalan lini serang dengan nama-nama besar seperti Lionel Messi dan Neymar Junior dalam membobol gawang lawan dapat dimaklumi, namun dengan melihat bagaimana rapuhnya pertahanan Barca dalam beberapa pertandingan terakhir, kita akhirnya juga tahu ada masalah penting di sana. Ketiadaan kiper Victor Valdes dan bek tengah Gerard Pique pasti akan kembali dieksploitasi Madrid. Apalagi dengan tingkat blunder partner Pique, Javier Mascherano, yang salah ambil posisi dalam dua gol Karim Benzema dalam laga El-Clasico terakhir, pastilah pelatih Madrid, Carlo Ancelotti, akan kembali memasang Benzema dalam pusaran gerakan Mascherano.

Sekilas rekor apik Tata kontra Don Carletto memberikan ketenangan bagi para Barcelonistas. Tapi perlu diingat, dua kali kemenangan yang diraih Tata bukanlah kemenangan yang mudah. Ada kejar mengejar skor di sana, ada asumsi skuad inti yang fit di sana, dan tentunya Barca tidak mengalami dua kekalahan beruntun pra El-Clasico. Jadi, bagaimana Tata, klimaks atau antiklimakskah Barca kali ini?

Final Copa del Rey 2013-14!

FC Barcelona vs Real Madrid

Venue : Stadion Mestalla, Valencia 16 April 2014

Perkiraan pemain:

FC Barcelona (4-3-3): Pinto; Alves, Bartra, Mascherano, Alba; Busquets, Xavi (c), Iniesta; Sanchez, Messi, Neymar

Real Madrid (4-2-3-1): Lopez; Arbeloa, Ramos, Pepe, Coentrao; Modric, Alonso, di Maria; Bale, Benzema, Ronaldo.

Visca Barca!

Kata kunci: ,

Imbang Lagi Untuk Kali Keempat: FC Barcelona 1-1 Atletico Madrid
initialsatsat - Rabu, 2 April 2014 - 11:02.

Gol fantastis Diego Ribas di menit ke 56 berhasil disamakan oleh sepakan terukur Neymar pada menit ke 71. Kedua tim menjalani laga leg pertama perempat final liga champions 2013/2014 di Camp Nou rabu dinihari. Hasil imbang untuk kali ke empat di pertemuan ke empat musim ini (2kali Super Copa de Espana dan 1kali Primera Liga)akan mencapai puncaknya minggu depan saat Barca harus menuntaskannya di kota Madrid. Kesempatan untuk melaju ke babak semifinal masih terbuka lebar bagi kedua tim. Meski keunggulan karena gol tandang akan sedikit berpihak untuk anak asuh Diego Simeone.

Hal tersebut juga didukung oleh statistik yang diberikan oleh infostrada, bahwa tim tamu yang berhasil bermain imbang 1-1 pada leg pertama mempunyai keunggulan yang lebih dibanding tim tuan rumah saat leg kedua nanti.

Meski akan menjalani pertandingan penentuan saat leg kedua sepekan mendatang, kabar buruk menerpa saat cedera pemain dialami oleh kedua tim pada pertandingan kali ini. Dalam kurun waktu kurang dari sepekan, cedera kembali dialami oleh salah satu pemain andalan Barca di lini belakang, yakni Gerard Pique. Pique mengalami cedera pada menit ke-12 dan harus digantikan oleh Marc Bartra. Kabar terakhir menyebutkan bahwa Pique harus absen selama kurang lebih 4 pekan, dan sepertinya akan melewatkan laga leg kedua di Vicente Calderon. Selang 18 menit, giliran tim tamu mendapatkan musibah, yakni striker andalan mereka Diego Costa menderita cedera hamstring. Diego Costa yang dalam seminggu terakhir berjuang untuk mengembalikan kondisi kebugarannya harus menepi dari lapangan dan posisinya digantikan oleh Diego Ribas.

Barca bermain dengan nyaman dan mengendalikan permainan di babak pertama, tercatat 4 peluang berhasil dihasilkan oleh tuan rumah, yakni sundulan Neymar pada menit ke-23, sepakan Iniesta yang berhasil diblok kiper Thibaut Courtois dan sundulan Messi pada menit ke-41 serta lagi-lagi penyelamatan gemilang kiper tim tamu yang berhasil menggagalkan sepakan Neymar di menit akhir babak pertama.

Tim tamu berhasil menciptakan peluang sekaligus gol pertama di pertandingan kali ini saat tendangan fantastis yang sebelumnya diawali oleh dribel di sebelah kanan pertahanan Barca. Adalah Diego Ribas yang menjadi aktornya. Tak butuh waktu lama, 15 menit kemudian Barca berhasil menyamakan kedudukan. Umpan cantik Iniesta dari sektor tengah berhasil dikonversi menjadi gol oleh Neymar yang berlari dari sebelah kanan pertahanan Atletico dan berhasil membuat Courtois memungut bola dari gawangnya. Setelah itu Barca bertubi-tubi mencari gol pemenang, tetapi kegigihan Thibaut Courtois di bawah mistar gawang Atletico Madrid berhasil mementahkan sejumlah peluang tersebut.

Guardiola, Tito, Tata Dan Cesc Fabregas

Tata menurunkan 4 gelandang dalam pertandingan kali ini, dan hanya memainkan dua penyerang dalam diri Messi dan Neymar. Satu kali Pep pernah berkata bahwa ” Sebagai pelatih, anda akan selalu ingin bermain dengan cara memainkan pemain tengah sebanyak mungkin”. Sebagai mana Pep, begitu pula yang dianut oleh Tito musim lalu dan saat ini oleh Gerardo Tata Martino. Saat tim bertemu dengan lawan yang memiliki pressure berlapis seperti Atletico Madrid, Barca selalu melakukan hal yang sama yakni mencoba mengintegrasikan Fabregas dan membuat Xaviesta “berpisah”. Bukan kali pertama pula Fabregas bermain di bawah form melawan tim dengan disiplin dan pressure tinggi. Sederhananya untuk mengerti adalah bahwa untuk kesekian kalinya, Barca “hanya” bermain dengan 10 orang pemain di lapangan. Atau jika ingin sedikit bias, “ingin melihat tim terbaik di dunia beraksi dinihari tadi?”, maka lihatlah pertandingan tersebut sejak menit ke-68.

Atletico paham benar bahwa Tata akan menaruh sebanyak mungkin gelandang untuk menembus lini tengah dan kedua sentral bek Atletico. Tetapi tanpa pemain yang bermain melebar di sayap, tidak ada keragaman dari cara menyerang Xavi Hernandez dkk. Dan Simeone melakukannya dengan benar sejak awal pertandingan, saat skema 4-4-2 yang teruji nan ampuh digunakan untuk melawan Barca. Musim lalu di babak 16 besar saat tandang ke AC Milan, Barca mengalami hal serupa dengan menggunakan taktik yang sama. Dan saat bermain dengan comeback luar biasa di leg kedua, Barca kembali bermain dengan tiga gelandang kreatif mereka dan tiga penyerang. Setidaknya ada dua hal yang mendasari perubahan skema permainan Barca dinihari tadi hingga tim bisa menyamakan kedudukan. Yang pertama adalah masuknya Alexis Sanchez menggantikan Cesc Fabregas. Hanya butuh kurang lebih dua menit bagi Neymar untuk menyamakan kedudukan. Yang kedua adalah Neymar dan Alexis yang menempati sayap kiri dan kanan dengan Iniesta mendominasi lini tengah, maka peluang dengan mudah diperoleh oleh Barca. Dan tentu saja, kegemilangan kiper tim tamu mencegah tim untuk menjadi pemenang dalam laga kali ini.

Masche dan Bartra


Tak dapat dipungkiri bahwa cedera Valdes dan Pique saat tim dalam performa terbaik di musim ini benar-benar sebuah ketidakberuntungan. Valdes sendiri sudah cedera terlebih dahulu dan harus absen hingga akhir musim. Seakan belum cukup, Gerard Pique menyusul Valdes dan Puyol dalam daftar pemain belakang yang cedera di musim ini. Meski performa pemain muda kita -Marc Bartra- dinihari tadi cemerlang, kita belum bisa bernafas lega. Kenyataanya adalah saat ini tim hanya memiliki satu (1) bek sentral murni! Ya, hanya Marc Bartra saja bek sentral yang kita miliki saat ini. Plus Mascherano yang memang beberapa musim terakhir bermain sebagai sentral bek di pertahanan Barca. Hal ini menggambarkan, bahwa selama 4 pekan cedera Pique, maka selama 4 pekan itu pula, baik Masche dan Bartra tidak akan memiliki waktu istirahat. Dan kemungkinan terburuk adalah lagi-lagi kita akan melihat, bahwa Tata Martino akan mengadopsi lagi skema seperti musim lalu, yakni mencoba Song, Sergio atau bahkan Adriano sebagai bek sentral.

Seperti yang sudah diutarakan oleh Xavi seusai pertandingan bahwa kesempatan untuk kedua tim sama-sama besar, maka Barca hanya perlu mencetak gol cepat di Vicente Calderon untuk bisa mengontrol pertandingan, yakni dengan cara bermain dengan skema 3 gelandang dan 3 penyerang. Karena bermain di kandang, sudah bisa dipastikan bahwa Atletico akan bermain terbuka di awal pertandingan guna mencari gol cepat, setelah itu melakukan pressure ketat. Dan hanya dengan skema seperti disebut diatas tadi, Barca bisa mencetak setidaknya 1 atau 2 gol pada 30 menit awal di Vicente Calderon minggu depan.

SomHi Barca!

Quarter Final leg pertama UEFA Liga Champions 2013/2014

FC Barcelona 1-1 Atletico de Madrid

Gol : Diego Ribas (’56), Neymar (’71)

Venue : Camp Nou (79,941)

Wasit : Felix Brych (GER)

Susunan Pemain :

FC Barcelona (4-3-2-1): Pinto, Alves, Pique (Bartra ’12), Mascherano, Alba, Xavi, Sergio, Fabregas (Alexis ’68), Iniesta, Neymar, Messi

Atletico Madrid (4-4-2): Courtois, Juanfran, Miranda, Diego Godin, Filipe Luis, Gabi, Tiago, Koke, Arda Turan (Cristian Rodriguez ’77), David Villa (Jose Sosa ’70), Diego Costa (Diego Ribas ’30)

Kata kunci: , ,

#