MEMBERSHIP Pendaftaran membership FC Barcelona Indonesia secara online, disini. Tanya-tanya bisa langsung melalui forum di sini.        Next Match - Liga: FC Barcelona vs Athletic Bilbao. Senin, 21 April 2014. Jam 02:00 WIB.        Last Match - Final CDR: FC Barcelona 1-2 Real Madrid. Gol oleh Bartra 68'.        Kekalahan dari Real Madrid adalah kekalahan ketiga beruntun Barcelona di semua ajang. Terakhir kali Barca kalah 3x beruntun adalah pada 2003.        Kritik, saran, dan keluhan dapat disalurkan melalui forum disini.
Tactical Analysis PSG – FC Barcelona
Sabtu, 6 April 2013 - 18:37

psg vs barca

Laga Paris Saint-Germain (PSG) FC kontra FC Barcelona pada putaran pertama babak 8 besar Liga Champions 2012/13 hari Selasa, 2 April 2013, malam waktu kota Paris akan dikenang sebagai ajang uji nyali oleh pelatih PSG, Carlo Ancelotti. Walau sepanjang musim ia relatif ‘adil’ dalam menerapkan dua formasi utama, 4-3-3 dan 4-4-2, namun sebenarnya banyak yang sebelum pertandingan tersebut sudah lebih dulu memaklumi bila PSG akan bermain aman lewat strategi bertahan dengan hanya mengandalkan serangan balik.

Nyatanya jauh berbeda. PSG tampil dengan formasi 4-4-2, tanpa gelandang bertahan ‘murni’, memainkan gelandang gaek David Beckham sebagai starter, mendorong kedua bek sayap naik membantu serangan. Bukan itu saja. Dalam situasi bola mati, Ancelotti mengizinkan duet bek tengah mereka maju ke kotak penalti Barca.

Tak ada kejutan dalam line-up PSG selain kehadiran Beckham. Idealnya, Ancelotti pasti masih ingat dengan komentar salah satu legenda Manchester United, George Best, tentang Beckham. Best pernah bilang, “Beckham tidak bisa menendang dengan kaki kiri, tidak bisa menyundul bola, tidak bisa menekel dan tidak mencetak cukup banyak gol. Selebihnya Beckham bermain baik.” Maka memang sebuah resiko tinggi bagi PSG saat Ancelotti memainkan Beckham sejak menit pertama dengan posisi strategis menutup keempat bek di belakangnya. Memainkan Beckham yang tidak ahli bertahan dihitung oleh Ancelotti sebagai resiko kecil dibanding manfaat yang bisa diberikannya lewat umpan-umpan terukur ke penyerang jangkung, Zlatan Ibrahimovic.

Sebaliknya, terhadap Blaise Matuidi, gelandang penuh energi yang biasanya diplot sebagai breaker, Ancelotti mendorong posisinya lebih ke depan. Bersama Javier Pastore di kiri, Lucas Moura di kanan, dan Ezequiel Lavezzi yang rajin naik turun, ia membentuk empat serangkai penekan gelandang Barca. Mereka berempat dirancang untuk bermain rapat di area tengah permainan, tanpa terlalu banyak bergerak ke sayap. Skenarionya adalah begitu bola didapat oleh barisan belakang PSG, diumpankan ke Beckham, lalu dilambungkan jauh ke depan dengan target Ibrahimovic. Ketika bola diperebutkan oleh Ibrahimovic kontra bek-bek Barca, mereka berempat bersiaga untuk menyambut bola liar.

psg vs barca

Maka tak heran pada laga tersebut, jarang kita melihat aksi Moura menggiring bola di sisi sayap seperti halnya dulu sering ia lakukan saat berkostum Sao Paulo. Pun demikian dengan Pastore. Untuk urusan menyerang lewat sayap, Ancelotti lebih menginstruksikan Christophe Jallet di kanan dan Maxwell di kiri untuk naik membantu serangan. Dengan padatnya pemain-pemain PSG di area tengah permainan, kinerja beberapa pemain Barca menjadi tidak begitu terlihat, terutama Sergio Busquets. Busquets yang biasanya bermain efektif berbagi tugas pengawalan dengan bek-bek Barca, malam itu terlihat sering salah mengambil posisi. Contohnya saat gol kedua PSG terjadi. Bila menilik dari sisi pengawasan wilayah, wilayah terjadinya gol kedua PSG oleh Matuidi adalah tanggung jawab Busquets, sementara pengawalan Ibrahimovic sebagai pemberi assist lewat sundulan adalah tanggung jawab duet bek tengah Barca, Gerard Pique dan Marc Bartra.

Gol oleh Matuidi tersebut adalah klimaks dari skenario pengkonsentrasian serangan PSG lewat jalur tengah lapangan. Tambahan lagi, barisan pertahanan Barca, dimulai dari Busquets, tampaknya tidak siap dengan fungsi serbabisa Ibrahimovic. Ancaman pertama PSG di menit-menit awal babak pertama lewat tembakan Lavezzi yang membentur tiang gawang Victor Valdes adalah salah satu bentuk perubahan fungsi tersebut. Saat Lavezzi berlari ke depan mendekati kotak penalti Barca, Ibrahimovic sudah terlihat bergerak menjauhi ‘kotak penyerang tengah’ yang diambil oleh Lavezzi.

Sebelum gol oleh Matuidi tersebut, gol pertama PSG juga menegaskan kelengahan Barca dalam hal bola udara. Terlepas dari posisi Ibrahimovic yang berada dalam posisi off-side untuk menjemput bola yang membentur tiang gawang Valdes, tayangan ulang menunjukkan saat naik ke udara menyundul bola, yang tertangkap kamera adalah dua orang pemain PSG tanpa ada pemain Barca ikut menyundul di dekatnya, dimana kepala Silva-lah yang berhasil mengenai bola. Harusnya para pemain Barca sudah paham lebih awal bahwa duet bek tengah PSG, Silva dan Alex, telah menyumbangkan nyaris 25% dari 17 gol PSG hingga matchday 8 Liga Champions saat menyingkirkan Valencia. Positioning yang tak cermat terhadap bola udara oleh para pemain Barca dihukum oleh dua gol penyama kedudukan oleh PSG. Ini mengulang kesalahan yang juga terjadi di jornada terakhir pekan kemarin saat gol sundulan oleh Oubina di pengujung laga menyelamatkan satu poin bagi Celta Vigo.

messi

Belajar dari kemenangan penting 4-0 atas AC Milan di babak 16 besar, Barca kembali mencoba mengulang peragaan formasi 3-4-3. Skenarionya mirip. Di depan, Francesc ‘Tito’ Villanova menderetkan Alexis Sanchez – Lionel Messi – David Villa, dari kiri ke kanan. Ketika menyerang lewat sayap kanan, Villa masuk ke tengah, Messi mundur sedikit ke belakang, dan Dani Alves naik menjadi sayap kanan. Cara normal 4-3-3 baru terjadi bila serangan dilakukan dari sayap kiri, dimana Andres Iniesta bersama Sanchez dan Jordi Alba berusaha membongkar sektor yang dikawal Jallet. Cedera yang dialami Messi pada akhir babak pertama tidak mengubah gaya bermain Barca sekalipun posisi Messi diambil oleh Cesc Fabregas di babak kedua.

Barca kurang beruntung dengan jatah pergantian pemain yang harus dilakukannya pada malam itu. Dua dari tiga pergantian pemain terpaksa dilakukan karena cedera yang dialami Messi dan Javier Mascherano. Sementara satu pergantian lainnya dengan memasukkan Cristian Tello tidak menuai dampak signifikan terkait psikologis pertandingan yang sudah sama kuat 1-1 saat pergantian dilakukan.

Kontras dengan Barca, PSG sukses dengan rencana pergantian pemain yang dilakukan Ancelotti. Ancelotti melakukan tiga pergantian pemain hanya dalam 11 menit, dengan semua pergantian diorientasikan pada peningkatan serangan PSG. Pergantian pertama dilakukan pada menit ke-66 dengan menarik keluar Lavezzi dan memasukkan Jeremy Menez. Menez yang segar menggantikan peran Lavezzi untuk naik turun antara posisi gelandang dan penyerang. Bedanya dengan Lavezzi, Menez lebih banyak beroperasi dari sektor kanan pertahanan Barca, terutama setelah pergantian ketiga dengan masuknya Kevin Gameiro menggantikan Pastore.

villa

Satu-satunya ‘gelandang bertahan’ PSG malam itu, yakni Beckham, diganti pada menit ke-70 dengan alasan stamina. Sesungguhnya dengan kontribusi umpan-umpan jauhnya, Beckham telah cukup sering mengirimkan sinyal bahaya ke daerah pertahanan Barca. Pergantian ketiga atau yang terakhir dilakukan Ancelotti adalah pada menit ke-76 dengan memasukkan Gameiro dan menempatkannya sebagai partner Ibrahimovic, sementara Menez digeser ke posisi yang ditinggalkan Pastore.

Strategi agresif yang diterapkan oleh Ancelotti menyelamatkan ‘nyawa’ pertandingan PSG kontra Barca. Bukannya mengikuti pola umum dari tim-tim yang menyingkirkan Barca dengan hanya mengandalkan serangan balik, Ancelotti malah memulai pertandingan dengan menempatkan lebih banyak pemain bertipe serang. Pun di luar strategi menyerangnya yang lebih banyak langsung menusuk area sentral pertahanan lawan tanpa memaksakan diri menerobos lewat tepi lapangan, tak terlihat gaya bermain ala Italia yang cenderung menumpuk pemain bertahan dan bertempo lambat. Namun sayangnya Barca kali ini kurang maksimal memanfaatkan ‘peluang’ jual-beli serangan yang ditawarkan Ancelotti. Maksimalkan di leg kedua, Barca!

Visca Barca!

Kata kunci: ,

#