Visca Barca,
Selamat datang di web FC.Barcelona Indonesia bagi pecinta sepakbola khususnya para penggemar Barcelona. Maksud dan tujuan website ini adalah untuk mempererat tali persaudaraan sesama pendukung Barcelona dalam berinteraksi, berbagi info dan berdiskusi mengenai berbagai hal menyangkut klub kebanggaan kita bersama. Forum yang ada juga kami upayakan agar bisa menjadi sarana one stop shopping bagi para pendukung untuk mengakses berbagai macam hal mengenai FC.Barcelona, kami menyadari masih banyak kekurangan dan berbagai perbaikan yang mungkin masih perlu dilakukan demi penyempurnaan website kita bersama ini, saran dan kritikan akan kami terima untuk kebaikan website ini.
Semoga website ini bermanfaat bagi kita sesama para penggemar Barcelona dan kecintaan kita terhadap sepakbola. Sekian dan terima kasih.
FIDELITAT BLAUGRANA SENSE LIMITS, SOMOS LOS MEJORES, VISCA BARCA.
Lagi-lagi Barcelona harus tumbang oleh rival abadi untuk kali kedua secara berturut-turut dalam waktu yang kurang dari empat hari. Bermain di Santiago Bernabeu pada Sabtu (2/3) malam WIB, tuan rumah berhasil menundukkan tamunya 2-1.
Dengan semangat dan kepercayaan diri tinggi pasca menang di EL Clasico jilid I tahun 2013, El Real langsung membuat pendukungnya bersorak di menit ke-5 lewat gol Karim Benzema setelah menerima umpan matang Morata.
Namun Messi berhasil menyamakan kedudukan di menit 17. Peraih empat kali Ballon d’Or ini terlepas dari perangkap offside pertahanan Madrid kemudian mencoba untuk melewati hadangan Ramos sebelum akhirnya menendang bola datar ke arah kiri gawang Lopez dengan kaki kirinya. Gol ini sekaligus menyamakan rekor gol terbanyak di El Clasico yaitu Di Stefano dengan 18 gol.

Messi bisa saja membalikkan keadaan pada menit 32. Berawal dari serangan David Villa di sisi kiri, pemain nomor punggung 7 itu kemudian melepaskan umpan pada Messi di depan kotak penalti. Pemain mungil ini menendang bola dengan kaki kanannya ke gawang Diego Lopez. Sayang kaki kanannya belum sekuat kaki kirinya, bola pun dengan mudah ditangkap Lopez. Skor masih sama kuat 1-1.
Morata punya peluang bagus untuk membuat Madrid unggul lima menit berselang, pemain yang mengisi posisi CR7 ini nyaris menjebol gawang Valdes. Morata yang berada di tiang jauh melepaskan sundulan dari sisi kanan pertahanan Barca dan untungnya sundulan itu masih menyamping di kanan Valdes. Babak pertama pun berakhir dengan skor imbang 1-1.
Di babak kedua, Mourinho bergerak cepat dengan memasukkan Cristiano Ronaldo dan Khedira. Perubahan yang tepat bagi kubu tuan rumah. Pemain nomor 7 Madrid langsung mendapat peluang melalui tendangan bebas di menit 66. Tendangan kerasnya itu masih bisa ditepis Valdes yang menjadi kapten Barca pada pertandingan tersebut.

Jordi Roura yang berada di pinggir lapangan masih belum juga melakukan pergantian pemain hingga laga hampir menyisakan 20 menit lagi. Padahal, hasil seri 1-1 saat itu masih sangat riskan bagi tim tamu yang keadaannya sedang tertekan dengan serangan-serangan balik cepat Madrid. Entah ini keputusan benar, entah ini keputusan salah, Roura memasukkan Alexis di menit 67 menggantikan David Villa. Kemudian Pedro keluar digantikan dengan Adriano pada menit 77, semua orang pun berpikir ‘perjudian’ apa yang akan dilakukan Roura.
Sementara di tengah lapangan pada menit yang sama 77, Morata hampir saja membuat gol perdananya di El Clasico. Tinggal berhadapan dengan Valdes, sepakan Morata masih bisa ditepis penjaga gawang nomor 1 Barca itu keluar lapangan.
Petaka bagi Barca pun terjadi di menit 81. Tuan rumah akhirnya bisa unggul kembali lewat sundulan mematikan dari Sergio Ramos. Menerima umpan yang matang dari Luka Modric lewat tendangan penjuru, Ramos berhasil mengalahkan Pique pada duel udara dan dengan tenang ‘meletakkan’ bola di jala Valdes. 2-1 tuan rumah unggul dan Santiago Bernabeu pun bersorak.
Pada waktu yang hanya menyisakan 5 menit, Roura baru memasukkan penyerang murni Critian Tello dalam keadaan tertekan dan tertinggal. Tak lama kemudian, CR7 nyaris saja mencetak gol jika tendangan bebasnya tidak dihadang oleh mistar gawang. Aksi bola muntah yang dimanfaatkan Essien juga gagal karena melenceng dari sasaran.

Di menit-menit ‘setan’, Barca membuat serangan di sisi kiri pertahanan Madrid. Adriano yang mendapat oporan dari Alves mencoba masuk ke kotak penalti Madrid. Sayangnya ada sedikit kontak dari kapten tim lawan. Wasit yang memimpin pertandingan itu seolah tak melihat akan hal itu dan tetap melanjutkan pertandingan. Hampir semua pemain Barca yang melihat dengan jelas kontak kaki tersebut memprotes keputusan wasit. Hasilnya, Iniesta mendapat ganjaran kartu kuning. Hingga peluit panjang skor tidak berubah untuk kemenangan tuan rumah dengan skor 2-1. Setelah laga selesai, Victor Valdes Arribas selaku pemimpin tim Barca saat itu memprotes dengan cukup keras atas keputusan wasit yang tidak memberi penalti kepada Barca. Sayangnya wasit hanya menganggap ‘angin lalu’ dan menghadiahi Valdes dengan kartu merah. Walaupun kalah, The Catalans masih menduduki singasana Liga Spanyol dengan selisih tinggal 13 poin dari tim ibukota itu.

Susunan pemain:
Real Madrid: Lopez, Ramos, Varane, Pepe, Coentrao (’69 Arbeloa), Modric, Essien; Callejon, Kaka (’58 Khedira), Morata, Benzema (’58 Ronaldo)
Barcelona: Valdes, Pique, Alves, Mascherano, Alba, Thiago (’85 Tello), Busquets, Iniesta, Pedro (’77 Adriano), Villa (’67 Alexis) , Messi
Pencetak Gol:
Real Madrid: Benzema ’5, Ramos ’81
Barcelona: Messi ’17
Kata kunci: el clasico, La Liga 2012-13
Dunia seolah tercengang melihat permainan Barca sekarang ini. Kenapa tidak? dua kekalahan terjadi dalam waktu dekat, AC Milan (2-0) dan Real Madrid (1-3). Parahnya ialah saat menghadapi Madrid karena dampak kekalahan itu Barca terpaksa merelakan satu tropi (Copa Del Rey) harus melayang dari genggaman. Hasil yang sangat mengejutkan jika melihat pertandingan tersebut. Pasalnya, tuan rumah bisa menguasai bola hingga 65% atas rival abadi tersebut. Namun, lagi-lagi keefektifanlah yang mengalahkan Barcelona. Lawan bermain dengan sedikit penguasaan bola tapi dengan sangat efektif untuk mencetak gol. Bukan bermaksud untuk menjelekkan tim kesayangan sendiri, tetapi hanya sebuah analisis yang harus diperbaiki.
Kini para punggawa Barca harus segera bangkit. Hanya berjarak kurang dari empat hari pasca El Clasico, tim kebanggaan warga Catalan itu telah dinanti dengan El Clasico selanjutnya. Ya, El Clasico di ajang La Liga (jornada 26) pada Sabtu (2/3) sore waktu setempat atau tepatnya pukul 22.00 WIB malam Minggu. Kenapa tim sebesar Barca bisa kalah? tentu semua tidak ada yang sempurna dan tidak mustahil juga sebuah tim sepakbola mengalami kekalahan. Di sini kita akan bahas satu per satu kekurangan yang harus segera dibenahi oleh Jordi Roura jika tidak ingin menambah noda-noda kotor kekalahan Barca musim ini.
Melihat pertandingan Milan dan Madrid yang lalu, masalah lini depan dan belakang menjadi faktor utama tunduknya pasukan Camp Nou ini. Barca selalu memainkan gaya tiki-taka yang telah populer sejak era Pep Guardiola di 08/09. Dengan gaya yang enak untuk ditonton ini Barca berhasil meraih 14 tropi bersama Pep dalam 4 musim kepemimpinannya. Selama 4 musim itulah hampir semua tim yang berhadapan dengan Barca harus dipaksa untuk bertekuk lutut. Namun, apakah setiap lawan itu harus selalu kalah dari Barca? Pasti mereka mencari solusi dan ‘obat’ untuk menyembuhkan strategi tiki-taka ini. Chelsea menjadi tim yang menghambat laju Barca untuk ke final Liga Champions musim lalu. Mereka berhasil menaklukkan permainan tiki-taka Barca dengan menerapkan strategi full of defence. Roberto Di Matteo mengarahkan seluruh pemainnya untuk bertahan dengan hanya meninggalkan satu penyerang (itu pun berada di setengah lapangan timnya). Dengan demikian hampir seluruh pemain Barca pun terpancing untuk menyerang dan ketika bola terlepas saat itu lah satu penyerang ini beraksi. Gaya ini memang bisa menumbangkan Barca, tapi bisa dikatakan kurang enak untuk ditonton.
Selanjutnya Milan yang menjadi ‘racun’ tiki-taka. Mengetahui bahwa Barca cukup bertumpu dengan Messi, maka hal ini lah yang harus dimatikannya terlebih dahulu. Dua hingga tiga pemain terlihat mengunci permainan Messi, sehingga Sang Bintang ini seolah tak bermain. Pada laga ini, Barca mencoba untuk mencari gol tandang sehingga rekan-rekan berusaha untuk terus menggempur pertahanan Milan. Tapi, petaka pun terjadi saat Barca kebobolan. Para pemain berusaha leih keras untuk menyamai kedudukan. Alih-alih untuk menyeimbangkan skor, gawang Valdes pun yang menjadi bobol untuk kali kedua.
Barca mencoba bangkit dilaga selanjutnya melawan Sevilla, syukur kita bisa meraih kemenangan 2-1 (walapun sempat tertinggal lebih dahulu). Ingat saat laga melawan Sevilla, Roura menurunkan Villa-Messi-Sanchez di babak pertama (0-1) dan Tello-Villa-Messi di paruh kedua (2-1).
Saat laga penting selanjutnya tiba yaitu melawan Madrid di leg 2 semifinal CDR, Roura menurunkan Iniesta-Messi-Pedro di lini serang. Inilah yang menjadi kesalahan Roura, pasalnya Barca kekurangan penyerang murni yang harus untuk mencari gol di awal laga. Keasyikan menyerang, Barca malah terkejut dengan serangan balik yang begitu cepat dari CR7. Pique yang menghadang sendirian harus melanggarnya di kotak terlarang. Petaka bagi Barca, wasit pun memberi penalti kepada tim ibukota ini dan Ronaldo yang langsung menjadi eksekutor dengan mudah memasukkan bola ke gawang. Barca harus tertinggal hingga turun minum. Tuan rumah yang kini tertinggal aggregat gol dan wajib mencetak gol belum juga memasukkan penyerang seperti Villa. Hingga akhirnya gol kedua pun tercipta. Barca harus mencetak 3 gol untuk lolos. Villa pun masuk, namun pergantian itu terasa terlambat karena Barca sedang tertekan. Berusaha untuk mencetak gol, gawang Pinto pun bobol untuk kali ketiga. Camp Nou pun terdiam dan Madrid pun serasa sudah berada di final. Dunia pun terdiam seraya beranggapan bahwa dominasi Barca sudah habis. Namun itu salah, semenit sebelum waktu normal berakhir, Jordi Alba berhasil membuat gol yang terbilang hiburan bagi Barca setelah memanfaatkan bola lambung dari Iniesta. Gol ini pun seraya memberikan sinyal kepada dunia bahwa dominasi Barca belum habis. Barca Masih Ada!
Dengan hal itu kita menilai bahwa Roura sudah saatnya untuk berani merotasi pemain terutama di lini serang, Pedro/Tello-Villa-Messi mungkin bisa jadi solusi. Di lini tengah sendiri, Xavi mungkin sudah sebaiknya di rotasi mengingat faktor usia. Pada pertandingan kemarin, Xavi terkesan takut untuk melepaskan umpan-umpan terobosan yang mematikan karena mungkit takut kehilanagan bola. Thiago menjadi solusi, terbukti saat ia masuk dan permainan Barca pun lebih hidup serta lebih berani melepas umpan. Untuk lini pertahanan kita bermasalah di sentral bek, Puyol perlu dirotasi karena faktor usia yang mempengaruhi. Tidak punya opsi lain, Barca harus membeli CB baru di musim panans nanti atau lebih berani untuk memberikan kesempatan pada pemain muda seperti Montoya dkk.
Jadi, pada laga melawan Madrid besok Barca harus lebih efektif dalam penyerangan tanpa mengesampingkan pertahanan. Terpenting lagi, mental para pemain harus segera dibangkitkan setelah kekalahan di dua laga krusial. Apalagi ditambah dengan kabar bahwa Madrid akan menurunkan lapis kedua pada laga besok dan menyimpan CR7 guna laga melawan MU di Liga Champions. Ditambah lagi rekor Barca musim ini, setelah kekalahan selalu menang di pertandingan selanjutnya. Hal ini menjadi beban mental yang ditanggung pemain selama 90 menit. Semoga saja para punggawa Blaugrana tidak menghiraukan hal itu dan fokus ke jalannya laga. Dilihat dari sisi sejarah, ini merupakan selisih terbesar Barca dengan Madrid saat bertandang ke Santiago Bernabeu dengan 16 poin atau 3 poin lebih dari kunjungan Barca ke SB pada musim 90/91. Kita berharap agar Roura bisa mengatasi ‘krisis’ ini dan lebih berani merotasi pemain atau paling kurang melakukan pergantian pemain lebih cepat di babak kedua. Semoga Barca bisa meraih hasil terbaik saat mengunjungi markas ‘Si Putih’ pada malam Minggu besok. Visca Barca!!!
La Liga Jornada 26
Real Madrid – FC Barcelona
Venue : Santiago Bernabeu (80,000)
Wasit : Pérez Lasa
Stasiun TV : Trans TV
Perkiraan formasi:
FC Barcelona (4-3-3) : Valdes, Alves-Pique-Puyol-Alba, Thiago-Busquets-Iniesta, Pedro-Messi-Villa
Kata kunci: el clasico, La Liga 2012-13

Takluknya FC Barcelona di dua partai besar terakhir membuat kini banyak yang mempertanyakan, “Apa yang salah di Barca?” Sekedar ketiadaan pelatih utamakah, kewajaran siklus pasang surut prestasikah, kehilangan motivasikah, atau karena strategi yang sudah semakin terbaca lawan yang jadi penyebabnya? Tiap poin tersebut bisa memiliki sudut pembenaran masing-masing, namun khusus untuk poin terakhir, sepertinya terdapat keterkaitan alasan teknis kekalahan antara AC Milan dan Real Madrid dalam sepekan terakhir.

Secara formasi, Jose Mourinho di Madrid tidak meniru pola 4-3-3 yang dipakai oleh Massimiliano Allegri untuk Milan. Hanya terdapat persamaan bagaimana mereka menugaskan pemain tertentu melakukan pengawalan terhadap dua kunci pengolah bola Barca, yakni Xavi Hernandez dan Lionel Messi. Seperti halnya Sulley Ali Muntari ditugaskan oleh Allegri, peran yang sama dilakoni oleh Xabi Alonso pada laga yang digelar di Stadion Camp Nou, stadion kebanggan Barca, tersebut. Peran Xabi yang naik-turun mengikuti siapa diantara kedua ‘tuan’nya yang sedang mengolah bola tersebut menjadi bagian dari strategi Mou untuk merenggangkan jarak antar lini di kubu Madrid, sebuah situasi yang dari El-Clasico pertama Mou hingga yang terakhir semakin terlihat.
Lalu apa gunanya Madrid merenggangkan jarak antar lini? Satu hal tentunya karena kebutuhan mereka untuk menyerang lebih gencar guna mengejar gol tandang akibat skor 1-1 yang dibawa dari putaran pertama. Yang kedua peran false 9 oleh Messi, telah dibuktikan Milan dapat dihentikan apabila pemasok bola di sekitar Messi dikunci lebih awal. Dengan mengunci Xavi oleh Xabi, ruang kosong yang diperoleh Messi di depan duet Raphael Varane dan Sergio Ramos menjadi tidak efektif karena bola tidak bisa dialirkan kepadanya. Terlihat bahwa sepanjang Xavi bermain, Madrid lebih memilih memprioritaskan pengawalan terhadapnya dimulai dengan memajukan posisi Xabi dan juga Sami Khedira hingga mendekati garis tengah lapangan.
Dalam skema Barca, Messi naik menusuk kotak penalti lawan (entah untuk menyambut umpan ataupun menggiring bola sendirian) ketika dua sayap yang mengapitnya bergerak menjauh dari Messi sambil menarik posisi bek tengah lawan. Melaksanakan skenario false 9 demikian menjadi sulit saat melawan Madrid kemarin karena posisi Pedro Rodriguez terlalu melebar di kanan, sementara Andres Iniesta sering salah langkah saat hendak masuk dari kiri karena areanya diserempet oleh Cesc Fabregas. Dua nama terakhir ini sering ditemukan berada di antara Alvaro Arbeloa dan Varane di saat bersamaan. Ya, kalau dibandingkan dengan laga melawan Milan dimana posisi yang bersinggungan adalah antara Messi dan Pedro, maka di laga ini bisa disaksikan beberapa momen dimana posisi Iniesta dan Fabregas bentrok, bahkan saat salah satu diantara mereka sedang memainkan bola.
Permainan cepat disertai umpan langsung yang dikombinasi dengan kecepatan lari yang jadi ciri khas Madrid khusus untuk melawan Barca kembali dipertontonkan oleh para pemain Si Putih. Gol pertama dan kedua Madrid jadi pengesahan skenario ini. Khusus untuk gol pertama, terdapat sebuah hal menarik dari Madrid yang tidak ditampilkan oleh Barca. Gol tersebut dimulai dari kepungan Madrid terhadap sisi kiri Barca. Mesut Ozil melob bola melewati kepala Sergio Busquets, disambut Higuain untuk diteruskan melewati Carles Puyol sebagai bola wilayah kepada Ronaldo. Lalu kemana Angel di Maria yang diplot Mou sebagai sayap kiri Madrid? Memang kalau dibatasi pada tiga sentuhan terakhir sebelum penalti Ronaldo, tidak ada nama di Maria di sana. Namun begitulah rencana rapi disusun Mou, tiba-tiba saja pemain Madrid ramai di satu sisi lapangan. Ozil berlari horizontal dari tengah ke kiri, Ronaldo berlari diagonal dari kanan ke kiri. Di pihak lain, Barca tidak terlihat sedinamis tersebut pada malam tersebut.
Di laga terakhir kedua tim di bulan Februari tersebut, Barca jelas tidak efektif bermain di sisi sayap. Dani Alves, yang bermain cemerlang di babak kedua kontra Sevilla hari Sabtu sebelumnya saat melakoni peran ‘gantung’ sebagai sayap kanan dalam formasi 3-4-3, terlihat tak segarang biasanya. Dengan stamina berlebih setelah absen di jornada 25 kemarin, Jordi Alba di sisi kiri Barca-lah yang lebih rajin naik menjalankan operasi senyap menusuk pertahanan Madrid. Mou merespon kondisi ini dengan taktik yang berbeda. Biasanya, ia menukar posisi sayap kiri dan kanan yang dilakoni di Maria dan Ronaldo sepanjang pertandingan. Khusus di El-Clasico kemarin, di Maria murni beraksi sebagai sayap kanan Madrid (pengecualian untuk situasi bola-bola mati seperti gol kedua Madrid). Tampaknya ini dilakukan Mou mengingat absennya Alba di laga sebelumnya, sehingga dengan staminanya yang berlebih, perlu pengawalan di sisi yang sama dari pemain yang memiliki kemampuan bertahan lebih baik. Maka dipilihlah di Maria saja dibanding saling bertukar tempat.
Sebuah pengandaian muncul setelah laga. Bila starting-eleven Barca dirombak, seberapa besar Barca berpeluang meraih tiket final? Tak ada kepastian di sini, karena toh hukum dasar sepakbola bahwa bola itu bundar pasti tetap berlaku. Namun bila melihat Mou berani mencadangkan Pepe dan memilih Varane, yang notabene selama ini lebih banyak dipasang Mou untuk laga-laga kandang Madrid di Stadion Santiago Bernabeu dan baru kali itu menginjakkan kakinya di rumput Camp Nou, mengapa Jordi Roura terlihat begitu konservatif dengan sama sekali tidak mengganti skuad saat melawan Milan (pengecualian tentu untuk posisi Jose Pinto sebagai kiper)? Sepakbola memang kadang seperti judi, tapi nyali Mou untuk bereksperimen berhasil dibayar Varane dengan sebuah gol ketiga Madrid, mengulang yang dilakukannya untuk menyamakan skor pada laga pertama sebelumnya. Uniknya, pada proses gol Varane ke gawang Pinto di Bernabeu akhir Januari lalu dan gol terakhir Madrid di laga tersebut, Gerard Pique sebagai orang terdekat dengan Varane hanya bereaksi dengan melompat ke udara tanpa sedikit pun memberikan gangguan kepada pemain yang sedang menembak (baca: menyundul). Kejutan berupa rotasi belum menjadi skema unggulan Roura.
Kualitas pengambilan keputusan terkait timing oleh Roura belum teruji pada laga ini. Memasuki babak kedua laga, tidak ada pergantian pemain yang dilakukannya. Bahkan hingga sesaat sebelum masuknya David Villa yang dipicu oleh gol kedua Madrid, penempatan pemain dan gaya bermain oleh Barca masih merupakan pengulangan babak pertama. Villa sendiri hanya sesaat menikmati masa-masa indah di sayap kiri. Indah di sini dikarenakan Villa lebih fasih bermain sebagai sayap kiri dibanding sayap kanan. Maka, saat Cristian Tello masuk menggantikan Pedro, Villa bergeser ke kanan tanpa ancaman ke gawang Lopez.
Masuknya Villa dan Tello cukup menarik untuk menguji kecakapan Roura memimpin Barca di partai besar. Villa, sebelum benar-benar memasuki lapangan, sudah cukup lama melakukan pemanasan di pinggir lapangan. Mungkin ada sekitar lima menit dia tertangkap kamera berlari kecil sambil sesekali menatap ke tengah lapangan lewat sela-sela penutup kepalanya. Bila melihat situasi permainan di awal kedua hingga terjadinya gol kedua Madrid, harusnya sudah lebih awal ia masuk. Lain lagi dengan Tello. Saat namanya dicalonkan untuk pergantian berikut, ia baru terlihat bersiap-siap untuk memasangkan kaos kaki dan sepatunya. Entah apa yang sebenarnya terjadi di pinggir lapangan, namun nuansa kegugupan Roura lewat keragu-raguan pada situasi pergantian Villa dan ketergesaan pada Tello agak sulit ditepis.
Perlu diingat bahwa situasi sekarang bisa saja dikaitkan dengan ketiadaan pelatih utama Francesc ‘Tito’ Vilanova yang masih berada di New York untuk menjalani perawatan pasca operasi kanker yang dideritanya. Menyalahkan Roura sebagai penyebab kekalahan yang berawal dari strategi juga tidak tepat. Bagaimanapun Tito, selama dalam kondisi sehat melatih Barca, bisa menunjukkan prestasi yang penuh rekor bagi Barca setelah menjalani lima tahun asistensi bersama Josep ‘Pep’ Guardiola di Barca B dan tim utama. Sementara Roura, walaupun sudah berada di pusaran tim Pep sebelum ia mengundurkan diri, baru menjalankan peran pengambilan keputusan belakangan ini. Biasanya, ia hanya bertugas mengumpulkan dan menganalisa kekuatan tim lawan di era Pep.
Begitupun, satu hal harus selalu diingat bahwa pengalaman adalah guru yang terbaik. Kekalahan Barca dalam seminggu ini dialami dari dua tim yang paling banyak dihadapi Barca musim lalu, Milan 4 kali dan Madrid 6 laga. Barca memperoleh mayoritas kemenangan dari total 10 partai tersebut. Milan dan Madrid telah belajar banyak ternyata. Barca? Ayolah belajar juga!
Visca Barca!
Kata kunci: Copa del Rey 2012/2013, el clasico
Kata kunci: Copa Del Rei 2012/2013, Jordi Alba, Jose Pinto, Xavi Hernandez

29 Agustus 2012. Malam hari waktu ibukota Spanyol, Madrid. Sebuah perhelatan besar berjudul El-Clasico digelar di Stadion Santiago Bernabeu. Tuan rumah Real Madrid CF menjamu FC Barcelona pada putaran kedua final Piala Super Spanyol 2012. Berbekal kemenangan 3-2 di laga home, Barca digadang-gadang akan mengangkat trofi perdananya bersama dengan pelatih baru, Francesc ‘Tito’ Villanova. Apalagi grafik kedua tim sepanjang awal musim terlihat kontras, Barca menyapu bersih dua laga awal La Liga lewat dua kemenangan, sementara Madrid hanya meraup satu poin dari jumlah laga yang sama. Nyatanya, serangan Madrid lebih berbahaya dari biasanya pada malam itu, dan akhirnya mereka memenangkan laga dengan skor 2-1. Sama-sama mencetak dan kebobolan empat gol, Barca terhitung kalah produktivitas mencetak gol di kandang lawan dan akhirnya menyerahkan trofi yang tahun sebelumnya diraih.
Kini, 26 Februari 2013, Barca dan sang rival abadi akan kembali bertemu dalam laga putaran kedua babak semifinal Copa del Rey 2012/2013. Harusnya laga kali ini lebih mudah andaikan pada putaran pertama Barca benar-benar efektif mensiasati kondisi pincang sang lawan kala itu. Namun kenyataan di atas lapangan berkata lain. Berakhir dengan skor sama kuat 1-1, tidak ada kubu yang benar-benar lebih diunggulkan untuk pertandingan yang digelar malam nanti waktu setempat di Stadion Camp Nou, stadion kebanggaan Barca.
Apa yang terjadi pada putaran pertama harus benar-benar dicermati oleh Barca. Hampir sama dengan laga-laga dengan sistem gugur lainnya dimana Barca kalah agregat, tim lawan selalu menyasar celah psikologis hukum kandang dan tandang yang diterapkan. Sadar bahwa Barca akan terus menyerang tanpa melihat faktor tuan rumah dan skor berjalan yang sudah tercipta, maka sudah menjadi rahasia umum bila tim-tim yang berhadapan dengan Barca berusaha merusak rencana permainan Barca dengan mengandalkan serangan balik saja. Terlebih saat berlaga di Camp Nou, formasi bertahan yang dimainkan lawan semakin menjadi-jadi dibandingkan laga di kandang mereka sendiri. Fakta lain pun perlu dilibatkan, bahwa sangat sulit belakangan ini mencari laga El-Clasico dimana baik Barca maupun Madrid tidak saling mencetak gol. Artinya, perang psikologis di atas lapangan akan banyak didikte oleh tim mana yang lebih awal menyandang status mencetak gol ke gawang lawannya.
Maka, faktor tuan rumah bagi Barca malam ini harus benar-benar dirancang dalam sebuah skema permainan yang tepat. Dibanding melihat diri sendiri terlebih dahulu, ada baiknya untuk laga kali ini, Jordi Roura sebagai arsitek Barca di pinggir lapangan melihat alternatif-alternatif yang dapat muncul dari sisi lawan di sepanjang pertandingan.
Asumsi paling mudah bagi Roura untuk menyusun komposisi pemainnya adalah bahwa Madrid tidak mampu mengembangkan serangan baliknya hingga gagal mencetak gol ke gawang Victor Valdes. Pada analisa yang demikian, Roura lebih bebas untuk menempatkan siapapun diantara pemain yang siap dari sisi fisik dan mental untuk bermain sebagai starting-eleven Barca. Toh kualitas antara mereka yang sering dan jarang tampil tidak berbeda jauh. Bahkan dengan motivasi dan kesegaran yang lebih, pada laga-laga dimana Barca cukup banyak menurunkan pemain yang jarang tampil, hasilnya tetap berbuah tiga poin untuk Barca.
Tapi tunggu dulu, itu adalah asumsi yang paling diinginkan oleh semua Barcelonistas. Apa jadinya bila sebuah gol cepat dari Madrid tercipta di babak pertama? Ataupun sebuah gol berhasil dicetak lebih dulu oleh siapapun dari Si Putih di babak kedua? Inilah asumsi terburuk yang perlu dipikirkan oleh Roura agar Barca tidak terjebak dalam serial thriller hingga usainya pertandingan.
Dalam keadaan yang terakhir disebutkan di atas, Barca pasti akan lebih sulit membongkar pertahanan Madrid. Jelas, siapapun yang sedang unggul pasti memiliki kenyamanan lebih untuk mengatur cara bermainnya. Maka dengan rentang asumsi yang cukup luas dari mulai mencetak gol lebih dulu hingga kebobolan lebih dulu, Barca harus mempersiapkan ragam alur serangan yang bisa dimainkannya agar kerugian secara agregat tidak menghampirinya. Mari kita lihat apa saja potensi tim yang bisa dipakai Barca pada laga nanti.
Yang pertama, dengan kemungkinan Madrid memakai dua gelandang bertahan dan pengawalan keras oleh duet bek tengah Pepe dan Sergio Ramos, maka mengandalkan arus bola hanya dari tengah saja sulit untuk dijadikan pilihan oleh Barca. Masalah muncul di sini. Roura terlihat lebih menyukai peran false 9 dan false 10 dimainkan sekaligus, padahal ini beresiko menyebabkan permainan Lionel Messi dan Cesc Fabregas sebagai pelakon kedua peran tersebut tertumpuk di area yang sama.
Alternatif yang bisa dipakai adalah mengkombinasikan serangan dari tengah dan dari sayap. Khusus dari sayap, Roura bisa berhitung siapa yang diturunkan sejak awal diantara Alexis Sanchez, Cristian Tello, David Villa dan Pedro Rodriguez. Tello dan Rodriguez lebih dikenal dengan penetrasi berbalut kecepatan lari. Sanchez sudah umum bermain dengan porsi ‘berkelahi’ yang lebih banyak di area berbahaya lawan. Sementara Villa adalah tipe penyelesai akhir. Satu hal lagi, diantara mereka berempat, Tello dan Villa lebih fasih bermain di sektor kiri, berbeda dengan Pedro dan Sanchez yang mampu bermain sama baiknya dari sisi kanan dan kiri.
Maka dengan pilihan yang beragam ini, ada baiknya bila memang dimainkan, Tello masuk dari bangku cadangan di saat energi bek kanan Madrid sudah terkuras sehingga adu lari yang jadi andalan Tello bisa dimenangkannya. Nah, dengan grafik pertandingan terakhir melawan Sevilla dimana Villa sukses mencetak gol dan Pedro beristirahat penuh di sepanjang laga, keduanya dapat dijadikan pilihan utama untuk mengapit Messi di sektor depan.

Di sektor tengah, masalah yang diderita tim tamu tidak lagi sebanyak laga putaran pertama. Kembalinya Angel di Maria setelah menjalani hukuman larangan bertanding akan menambah intensitas serangan Madrid dari sisi sayap. Pilihan Jose Mourinho sebagai arsitek Madrid sangat beragam di sektor ini, sama halnya dengan yang dimiliki oleh Barca. Di sini diperlukan kejelian Roura untuk mencari kombinasi lini tengah yang pas untuk Barca.
Satu kata kunci yang perlu ditampilkan oleh Roura pada laga ini adalah kejutan, dan kejutan ini paling tepat dilakukannya untuk sektor tengah Barca. Terkait dengan skema alternatif untuk lini depan yang disampaikan sebelumnya, maka menggusur slot rutin atas nama Fabregas sebagai false 10 dapat dilakukan mengingat keterbatasan geser-menggeser pemain di lini depan bila ia dimainkan. Xavi Hernandez dan Andres Iniesta diduetkan untuk mengatur lini tengah Barca.
Antisipasi lebih perlu dilakukan Roura terhadap siapa yang akan dimainkannya sebagai gelandang bertahan, mengingat di sisi lawan, Mou sepertinya sedang tertarik bereksperimen dengan satu gelandang serang yang sempat dilupakannya, yakni Kaka. Sudah dalam tiga laga La Liga terakhir, Mou memainkan Kaka sebagai starting-eleven di pos favoritnya, yakni tepat di belakang striker. Maka bukan tak mungkin Mou nantinya akan memainkan empat pemain berkarakter menyerang sekaligus di lini tengah, yakni di Maria dan Cristiano Ronaldo di sisi sayap, dan Ozil serta Kaka berduet dari tengah. Bila ini yang terjadi, maka Barca butuh seorang gelandang bertahan dengan tenaga lebih dan siap untuk berduel fisik lebih sering. Dalam hal ini Alexandre Song lebih memenuhi syarat dibanding kompatriotnya yang sudah reguler di posisi tersebut, Sergio Busquets.
Di lini belakang, tampaknya tidak akan ada perubahan komposisi pemain dari yang sudah reguler dipasang oleh Roura. Dengan bermainnya Angel di Maria, hampir dapat dipastikan bahwa kuartet Dani Alves – Gerard Pique – Carles Puyol – Jordi Alba akan berusaha mengunci pergerakan ujung tombak Gonzalo Higuain dari pihak Madrid. Namun ada skema Mou terkait bermainnya di Maria yang perlu dipelajari Roura untuk lini belakang Barca. Sejauh menguntungkan timnya, Mou memiliki kebiasaan memainkan duet senegara. Sudah dalam beberapa El-Clasico terakhir, bila di Maria bermain dari awal, maka kompatriotnya di tim nasional Argentina, Higuain juga akan mengisi starting-line-up Madrid. Demikian pula bila Higuain masuk lapangan sebagai pemain pengganti bagi Karim Benzema, hanya dalam hitungan menit di Maria pun dimasukkan oleh Mou. Mungkin komunikasi yang lebih intens dan rahasia lewat bahasa yang sama diantara keduanya yang sedang dieksploitasi oleh Mou. Bila demikian yang terjadi, ada baiknya Roura mengalihkan posisi Puyol bagi Javier Mascherano yang juga berkostum tim nasional yang sama dengan di Maria dan Higuain. Seterusnya dalam alternatif ini, Puyol digeser ke posisi Alves, yang sudah bermain penuh setidaknya dalam tiga pertandingan terakhir, sebagai bek kanan.
Di luar soal komposisi pemain, pelajaran penting dari AC Milan tengah pekan kemarin harus mampu pula diserap oleh Barca. Kemungkinan besar Mou akan belajar dari Milan soal bagaimana bersabar menutup semua lini pertahanan kala diserang Barca sambil menitipkan pemain-pemain berlari kencang di sektor sayap yang ditinggalkan pemain Barca yang asyik menyerang. Bermain tempo memancing Madrid lebih keluar bisa menjadi kunci penting Barca, sama halnya dengan mengubah alur serangan secara cepat dari tengah ke sektor sayap.
Semua bisa terjadi di lapangan. Semoga Barca memenangkan laga ini dan lolos ke babak final.
COPA DEL REY SF 2nd Leg
FC BARCELONA – REAL MADRID
Venue : Camp Nou
Stasiun TV : Trans TV
Perkiraan formasi:
FC Barcelona (4-3-3): Valdes; Puyol, Pique, Mascherano, Alba; Song, Xavi, Iniesta; Pedro, Messi, Villa
Real Madrid CF (4-3-2-1): Lopez; Arbeloa, Pepe, Ramos, Coentrao; Essien, Khedira, Ozil; Ronaldo, di Maria; Higuain.
Visca Barca!
Kata kunci: Copa del Rey 2012/2013, el clasico, FC Barcelona, Real Madrid