Visca Barca,
Selamat datang di web FC.Barcelona Indonesia bagi pecinta sepakbola khususnya para penggemar Barcelona. Maksud dan tujuan website ini adalah untuk mempererat tali persaudaraan sesama pendukung Barcelona dalam berinteraksi, berbagi info dan berdiskusi mengenai berbagai hal menyangkut klub kebanggaan kita bersama. Forum yang ada juga kami upayakan agar bisa menjadi sarana one stop shopping bagi para pendukung untuk mengakses berbagai macam hal mengenai FC.Barcelona, kami menyadari masih banyak kekurangan dan berbagai perbaikan yang mungkin masih perlu dilakukan demi penyempurnaan website kita bersama ini, saran dan kritikan akan kami terima untuk kebaikan website ini.
Semoga website ini bermanfaat bagi kita sesama para penggemar Barcelona dan kecintaan kita terhadap sepakbola. Sekian dan terima kasih.
FIDELITAT BLAUGRANA SENSE LIMITS, SOMOS LOS MEJORES, VISCA BARCA.
Bila merujuk ke gengsi, idealnya La Liga berkasta lebih tinggi dibanding Copa del Rey. Namun hal demikian sepertinya tidak berlaku pada laga FC Barcelona kontra Sevilla FC. Gelaran jornada 25 pada hari Sabtu, 23 Februari 2013, malam waktu setempat kemarin terlihat disusupi persiapan oleh keduanya jelang putaran kedua babak semifinal Copa del Rey pada tengah pekan ini. Disadari atau tidak, bayang-bayang Los Blancos Real Madrid dan Los Colchoneros Atletico Madrid menjaga Los Cules Barca dan Los Rojiblancos Sevilla mulai dari komposisi pemain sebelum laga hingga usainya pertandingan.
Tuan rumah merombak komposisi pemainnya untuk jamuan kali ini. Bila pada laga-laga besar, Francesc ‘Tito’ Villanova atau Jordi Roura biasanya memilih susunan pemain yang relatif sama, tidak demikian pada saat melawan Sevilla. Enam pemain yang rutin dimainkannya pada musim ini tidak dibawa ke lapangan ataupun diistirahatkan pada bangku cadangan. Tercatat Jordi Alba, Sergio Busquets, Xavi Hernandez, Pedro Rodriguez yang turun saat melawan AC Milan pada laga sebelumnya kini duduk di bangku cadangan, sementara kapten Carles Puyol dan Cesc Fabregas tidak didaftarkan sama sekali.
Sebagai pengganti mereka, Roura memainkan Javier Mascherano sebagai teman duet Gerard Pique, sementara Martin Montoya diplot di posisi yang tak biasa untuknya, yakni sebagai bek kiri. Alexandre Song bermain sebagai gelandang bertahan di belakang duet Thiago Alcantara dan Andres Iniesta. Sementara tugas mengapit Lionel Messi diemban oleh Alexis Sanchez di kanan dan David Villa di kiri. Tidak ada perubahan formasi dari Barca, hanya saja gempuran lebih dititikberatkan dari sektor kanan, dimana bek kanan Dani Alves lebih rajin naik membantu serangan dibanding Montoya di kiri.
Susunan pemain Sevilla juga menunjukkan mereka memikirkan Copa del Rey. Top-scorer tim, Alvaro Negredo, dicadangkan oleh pelatih Unai Emery. Begitu pula dengan pemain muda potensial berumur 20 tahun, Geoffrey Kondogbia, serta punggawa senior yang sudah malang melintang hingga tanah Inggris, Jose Antonio Reyes. Perubahan komposisi yang demikian diejawantahkan oleh Emery lewat perubahan pakem lazim 4-3-1-2 menjadi 4-4-2 dengan variasi 4-5-1. Playmaker Ivan Rakitic yang biasanya menjembatani lini pertahanan dan lini serang Sevilla diduetkan dengan penyerang Baba Diawara. Namun, Rakitic sendiri lebih terlihat bebas naik turun sepanjang laga, sehingga tak jarang ia pun menutup area pertahanan Sevilla saat ditekan Barca.
Pertandingan sendiri berjalan relatif lebih lambat dibanding laga antara kedua tim pada umumnya. Seperti biasa, Barca bermain rapat antar lini dan secara bertahap mendesak mundur pemain lawan. Sementara Sevilla lebih mengandalkan umpan-umpan lambung yang langsung ditujukan bagi penyerang tengah Baba. Dengan tinggi yang menjulang, 1.85m, Baba diharapkan sebagai pemantul bagi Rakitic atas umpan jauh kiriman dari area permainan Sevilla.
Sepanjang babak pertama, Barca lebih banyak berputar-putar dengan bola di area tengah, sementara kerja sama di area sayap belum terkoordinasi dengan baik. Justru efektivitas serangan Sevilla dengan sebuah tandukan bek tengah Alberto Botia di pengujung babak pertama yang meningkatkan intensitas pertandingan. Barca ketinggalan hingga peluit istirahat babak pertama ditiup wasit.
Momen perubahan bagi Barca baru dimulai pada babak kedua. Masuknya Cristian Tello menggantikan Sanchez menampilkan wajah baru Barca. Berkaki efektif di sebelah kanan, Tello meninggalkan pos Sanchez dan mengambil area Villa di sayap kiri. Namun berbeda dengan Villa yang lebih merapat ke tengah, Tello lebih banyak menyisir sepanjang garis lapangan untuk kemudian berbelok arah ke kotak penalti di saat telah memasuki sepertiga terakhir dari area permainan Sevilla. Villa bergeser ke tengah dan berdiri lebih mendekati gawang dibanding Messi. Sementara pos sayap kanan dibiarkan sedikit menggantung, dimana Alves berada pada posisi stand-by sebagai gelandang kanan, untuk menunggu momen merangsek ke depan. Maka Barca pun memulai babak kedua dengan formasi 3-4-3 dengan variasi 3-3-4.
Perubahan formasi Barca memiliki alasan teknis dan taktis. Menurut kabar setelah pertandingan, digantinya Sanchez lebih karena faktor cedera yang dideritanya. Terlepas dari faktor tersebut, dari sisi posisi dan potensi, memang lebih dapat diterima bila dibanding Villa, maka Sanchez-lah yang harus diganti untuk memompa gempuran Barca. Dengan tingkat produktivitas yang lebih baik, maka lebih tepat tipe penyelesai akhir seperti Villa disisakan di lapangan dibanding double-agent sayap dan ujung tombak pada diri Sanchez. Apalagi di sepanjang babak pertama, serangan Barca terlihat kurang menggigit dari sektor kiri. Dukungan minimal dari Montoya membuat Barca tidak mampu membuka celah sektor pertahanan kanan Sevilla yang dikawal Jorge Andujar Moreno atau biasa dipanggil Coke. Villa sendiri digeser ke tengah dan bukan ke sayap kanan (posisi yang ditinggalkan Sanchez) berdasarkan rendahnya frekuensi serangan yang dibangun oleh Sevilla sepanjang babak pertama. Walaupun dalam keadaan unggul, sebenarnya Sevilla tidak banyak mengancam Barca. Karena itulah Roura berani mengurangi jatah pemain bertahan dengan mendorong Alves naik mendekati posisi sayap kanan. Untuk mengurangi ketidakharmonisan peran Villa dan Messi, maka Messi sedikit ditarik mundur untuk lebih sering mengolah bola dari area tengah permainan. Messi baru naik mendekati posisi Villa pada saat umpan dari sektor sayap telah siap untuk dikirim oleh Alves dan Tello.
Kejutan formasi oleh Roura ini menuai hasil. Sebuah umpan silang dari Alves disambut dengan sundulan oleh Villa. Sementara pada gol kedua, umpan Tello sangat tepat untuk diumpankan kepada Messi yang lari di belakang Villa di area kotak penalti Sevilla. Ini menunjukkan penugasan Messi di belakang Villa dilakoni dengan cermat untuk mengatur timing menusuk kotak penalti lawan.
Kebobolan dua gol dalam lima belas menit pertama menyentak rasa nyaman yang sempat menghinggapi kubu Sevilla. Sevilla pun terpaksa menurunkan beberapa pemain utama yang awalnya diniatkan untuk diistirahatkan, diantaranya Negredo dan Kondogbia. Efektivitas kedua pergantian ini paling terlihat pada diri Kondogbia. Ia mampu secara perlahan mengurangi bantuan serangan yang dilancarkan oleh Alves dari sisi kiri pertahanan Sevilla, bahkan kombinasinya bersama del Moral Manu memaksa Alves untuk bertahan lebih sering di area pertahanan Barca.
Barca tampaknya mulai letih bertahan dengan tiga bek dalam formasi 3-4-3. Maka untuk kembali memperkuat lini pertahanan, Roura menarik mundur Alves ke posisi awalnya, lalu memasukkan Busquets menggantikan Villa. Untuk menghindari beban pos berlebih sebagai gelandang bertahan bersama Song, Busquets dimainkan lebih ke depan bersama Xavi. Ini bisa dimengerti sebagai pilihan taktis oleh Roura, karena semakin mendekati area permainan lawan, Busquets yang merupakan jebolan La Masia lebih berpengalaman mengaplikasikan tiki-taka dibanding Song. Sementara dari sisi horizontal pemetaan lapangan, posisi Busquets lebih diarahkan ke sektor kanan Barca dikarenakan masuknya Kondogbia di pihak Sevilla telah menambah konsolidasi ancaman mereka terhadap sisi pertahanan kanan yang dijaga Alves. Di sektor depan, dengan digantinya Villa, maka Messi naik lebih ke depan, sementara serangan dari sayap kanan yang tadinya banyak diharapkan dari Alves, kini diambil alih oleh Thiago. Tipe Thiago sendiri yang jelas berbeda dari Alves menyebabkan alur serangan Barca dari sektor ini tidak lagi mengandalkan umpan-umpan silang.
Hingga akhir pertandingan, tidak ada lagi gol tercipta. Rombak formasi oleh Barca di sepanjang laga, terutama di babak kedua, menuai efektivitasnya. Dalam bayang-bayang menjemput El-Clasico menjamu rival abadi Real Madrid, Barca berhasil menundukkan Sevilla yang dibayangi-bayangi tim ibukota lainnya, Atletico Madrid.
Visca Barca!
Kata kunci: La Liga 2012/2013, Sevilla
Kekalahan atas Milan di liga champions lalu membuat Barcelona harus segera bangkit. Hanya berselang 3×24 jam, para punggawa Barca kembali harus ‘bertempur’ di ajang La Liga. Pekan ini, liga spanyol memasuki jornada 25 dan Barca akan berhadapan dengan Sevilla. Laga melawan Sevilla pada Minggu (24/2) dinihari WIB nanti akan menjadi ujian pertama apakah Barca sudah bangkit atau kian terpuruk pasca kekalahan yang cukup menyakitkan itu.
Menjadi tim yang dominan dan kualitas pemain yang mantap, Barca diunggulkan menang atas Milan. Namun, kans menang 99% itu tidak berhasil dan permainan Barca jauh dari harapan. Memang 99% itu belum 100%, masih ada celah 1% bagi tim lain untuk memenangkan pertandingan. Dua gol tanpa balas dari Rossoneri menjadi hal yang sangat berat bagi The Catalans untuk membalasnya di Camp Nou, Rabu (13/3) dinihari WIB.
Kini Barca harus bangkit dari kekalahan tersebut dan harus siap untuk meladeni Sevilla di Camp Nou nanti malam. Sevilla bukanlah lawan yang mudah, pasukan Unai Emery itu bisa saja mengimitasi permainan Milan untuk laga ini. Pada tahun 2013 ini, dari tujuh laga Sevilla berhasil menang 4 kali, kalah 2 kali, dan satu kali imbang. Pertandingan ini akan menarik untuk melihat bagaimana taktik dari Emery, pelatih Sevilla. Ia mungkin akan menurunkan Navas, Reyes atau Del Moral di sayap sebagai pemberi suplai bola ke Negredo yang berada di tengah. Atau Emery lebih menunjukkan permainan defensif dengan meletakkan Medel, Kondogbia, dan di tengah yaitu Maduro. Bagaimana pun taktik dari Emery, tentu ia harus mengangkat peforma tim nya dalam melakukan laga away yang terakhir kali menang saat mengalahkan Deportivo 0-2 pada Sepetember lalu.
Setelah partai ini, Barca kembali harus berjibaku pada ajang Copa Del Rey yaitu leg 2 semifinal melawan Real Madrid yang berlangsung di Camp Nou tiga hari berikutnya. Walaupun demikian, Jordi Roura meminta Iniesta dan rekan-rekannya untuk fokus dulu pada laga kontra Sevilla ini dan belum memikirkan duel yang penuh akan gengsi melawan Madrid tersebut. Apalagi laga leg 2 melawan Milan yang masih cukup jauh dari hitungan hari.
Pada musim ini, Barcelona baru 1 kalah di ajang La Liga (vs Real Seciedad 2-3) dan dua kali di liga Champions (Celtic dan Milan). Meskipun kick off dilakukan pukul sepuluh Sabtu malam waktu setempat, Jordi Roura meminta para fans untuk datang dan mengisi bangku penonton di Camp Nou dan menjadi pemain ke-12 bagi tim. Roura juga menyebutkan kehadiran penonton akan menjadi kunci bagi tim dan sangat penting untuk kembalikan kepercayaan diri para pemain.
22 pemain melakukan latihan pada Jum’at sore kemarin dan hanya Adriano yang tidak ikut akibat cedera. Para pemain akan melakukan latihan terakhir jelang laga pada jam 12.30 Sabtu siang waktu setempat. Latihan kemarin sore dipimpin langsung oleh Jordi Roura dan Abidal ikut serta dalam sesi tersebut pasca tim medis telah memberi lampu hijau bagi ‘King Abi’ untuk merumput kembali. Sedangkan Adriano, sedang dalam masa pemulihan dari cedera hamstring yang ia dapat saat melawan Granada lalu.
Untuk formasi Barca, 4-3-3 masih menjadi prioritas utama Roura. Valdes dipastikan akan menjadi penghuni bawah mistar Barca. Sebagai pelapis Valdes, Pique dan Masche akan diletakkan di posisi bek sentral. Ditambah dengan Alves dan Alba di pertahanan sayap. Maju ke depan, Song mungkin akan diletakkan sebagai gelandang bertahan dan Roura memilih untuk mengistirahatkan Busquets. Pada posisi gelandang serang, Thiago dan Cesc kemungkinan akan diturunkan sebagai opsi untuk menyimpan tenaga Xavi dan Iniesta demi laga penting selanjutnya (vs Madrid). Untuk penyerangan, Messi pasti akan diletakkan di tengah ditambah Pedro/Tello di kanan. Sedangkan untuk kiri, Sanchez kemungkinan akan tampil sebagai starting namun tidak menutup pilihan untuk memasang Villa sejak menit awal.
Semoga Barca bisa merah hasil positif di laga ini dan menjadikan laga ini sebagai ‘penyembuh’ setelah kekalahan. Visca Barca!
La Liga Jornada 26
FC Barcelona – Sevilla
Venue : Camp Nou (99,786)
Wasit : Velasco Carballo
Stasiun TV : Trans TV
Perkiraan formasi:
FC Barcelona (4-3-3) : Valdes, Alves-Pique-Mascherano-Alba, Thiago-Song-Cesc, Pedro-Messi-Sanchez
Kata kunci: FC Barcelona, La Liga 2012-13, Sevilla
Publik sepakbola dunia seolah serempak mengunggulkan FC Barcelona akan mudah melewati AC Milan saat keduanya dipertemukan lewat undian babak 16 besar Liga Champions pada bulan Desember lalu. Begitu pun hingga menjelang detik kick-off Rabu malam kemarin waktu setempat, jamuan Milan masih dianggap formalitas untuk mengesahkan Barca sebagai pemegang tiket babak perempat final. Nyatanya, hukum dasar bahwa bola itu bundar terjadi juga. Mengepung pertahanan Milan sepanjang laga, malah gawang Victor Valdes yang dibobol dua kali oleh Kevin Prince Boateng dan Sulley Ali Muntari. Barca gagal mencetak gol dan harus mengejar defisit dua gol di kandang sendiri tiga minggu ke depan.
Apa yang terjadi sesungguhnya? Mari kita ulas adu taktik yang diterapkan oleh pelatih kedua tim.
Dari sisi komposisi pemain, ada dua keputusan penting Massimiliano Allegri yang sangat tepat untuk Milan pada laga tersebut. Yang pertama adalah keputusannya untuk memainkan Muntari dalam starting-eleven Milan. Muntari bukanlah pemain inti. Hampir sepanjang musim ini dia menjalani proses pemulihan pasca cedera lutut saat bermain sepakbola pantai pada liburan musim panas lalu. Namun, sepertinya Allegri punya penilaian berbeda. Bila beberapa pelatih selama ini memfokuskan pengawalan pada Lionel Messi, maka Allegri menempatkan seorang Muntari untuk lebih mengawal Xavi Hernandez dibanding Messi. Namun ada satu pesan penting yang tampaknya dititipkan oleh Allegri, bahwa Muntari mengawal Xavi dalam pergerakannya dengan bola mulai dari lingkaran tengah lapangan, sementara saat Xavi bermain lebih ke dalam membentuk jangkar bersama Sergio Busquets, tugas Muntari dialihkan untuk memonitor pengolah bola Barca lainnya, Messi. Maka, menjadi pemandangan rutin dalam pertandingan tersebut bahwa saat mengawal Xavi, posisi Muntari naik sejajar Giampaolo Pazzini, sementara sering kali ia juga terlihat terselip mendekati Massimo Ambrosini untuk mengunci Messi. Secara singkat, peran pengawalan Muntari bersifat ‘roaming’ terhadap Xavi dan Messi.
Keputusan penting kedua dari Allegri adalah memainkan gelandang serang Kevin Prince Boateng sebagai sayap kanan. Sadar bahwa skill olah bola Boateng akan sulit berkembang melawan Barca bila berlama-lama dengan bola, maka Allegri melepaskan Boateng sebagai pelari di sayap kanan untuk menerima bola muntahan dari gelandang Milan. Maka Milan pada laga tersebut sebenarnya tidak memainkan seorang pengatur serangan. Tidak ada pemain khusus yang ditugaskan untuk mengatur tempo, namun untuk urusan mengirimkan umpan, Allegri lebih banyak mempercayakan pada kemampuan Riccardo Montolivo. Disinilah kejelian Allegri mengubah pola 4-3-1-2 yang lazim diterapkannya menjadi 4-3-3.
Sementara itu, tidak ada kejutan dari komposisi yang diturunkan oleh Jordi Roura. Kembali, formasi 4-3-3 Barca dihuni oleh pemain-pemain yang sudah rutin dijadikan Roura sebagai starting-eleven. Ini menjadi satu poin bagaimana mudahnya Allegri membaca strategi Barca. Idealnya, dari satu laga ke laga lainnya, ada dua tiga pemain yang dirotasi Roura untuk mengelabui lawan. Khusus bila kita menyimak empat laga kontra Milan di musim lalu, beberapa variasi yang diterapkan Josep ‘Pep’ Guardiola, pelatih Barca kala itu, diantaranya mendorong Dani Alves sebagai sayap kanan (yang pada musim ini selalu diisi oleh penyerang murni), ataupun memainkan Seydou Keita yang sebenarnya bukan pemain inti.
Belum ada kabar yang benar-benar terang mengenai faktor kalahnya Barca malam itu, tapi satu pendapat sudah disampaikan oleh Cesc Fabregas usai pertandingan, bahwa Barca bisa jadi sedang dilanda kelelahan. Hal ini cukup masuk akal bila dikaitkan lebih minimnya rotasi pemain di era duet pelatih Francesc ‘Tito’ Villanova dan Roura. Maka sebenarnya memilih di antara Alexandre Song, Javier Mascherano, Thiago Alcantara ataupun Alexis Sanchez untuk diselipkan dalam starting-eleven bisa menjadi kejutan Barca untuk sang tuan rumah.
Sepanjang laga berlangsung, terlihat bahwa skenario Allegri berjalan sukses, sementara Barca tidak berdaya mencari alternatif. Dinamisme strategi Milan akan lebih terlihat efektif dengan membandingkan jalannya pertandingan sebelum dan sesudah terjadinya gol Boateng.
Seperti kerbau dicocok hidungnya, duet Philippe Mexes dan Cristian Zapata benar-benar disiplin di depan gawang Christian Abbiati. Mereka tak pernah terpancing maju meninggalkan sepertiga terakhir dari area permainan Milan. Urusan mereka lebih kepada mengoordinasikan wilayah yang kosong yang sedang disasar Barca, sementara untuk mengawal para pengumpan seperti Xavi, Messi, Andres Iniesta dan Cesc Fabregas diserahkan bergantian kepada trio Montolivo, Ambrosini dan Muntari.
Sementara untuk urusan menyerang, bila pengaturan tempo yang dimiliki Milan saat menguasai bola belum maksimal, maka hanya bola yang dikirimkan ke depan. Namun bila untuk beberapa saat Milan berhasil mendapatkan tempo yang diinginkan, maka kedua bek sayap sajalah yang diutus mencari sudut di masing-masing sisi untuk mengumpankan bola ke kotak penalti Barca. Ini yang menyebabkan bahwa Ignazio Abate di kanan dan Kevin Constant di kiri terlihat sendirian mendukung tiga penyerang Milan.
Barca, dengan pola 4-3-3 sebagai formasi awal, bertransformasi menjadi 2-3-5 saat menguasai bola. Hal ini sudah lumrah dilakoni di setiap pertandingan Barca. Kendalanya, dengan susunan pemain yang dipilih Roura, tidak ada tipe striker murni yang bisa dijadikan dasar perubahan strategi di lapangan. Satu-satunya yang bisa berperan demikian tanpa mengorbankan potensi pemain lainnya di Barca pada malam itu hanya Sanchez. Namun dia masih duduk di bangku cadangan hingga lima menit setelah gol pertama Milan. Maka hingga Sanchez turun, Barca masih terjebak dengan alternatif target-man yang terbatas. Posisi Messi sendiri terlihat beberapa kali bentrok agak ke kanan menyerempet area Pedro Rodriguez. Idealnya, untuk mengatasi peran ‘roaming’ Muntari di Milan, menjauhkan jarak antara Messi dan Xavi bisa dilakukan dengan menggeser Messi ke posisi lamanya sebagai sayap kanan dan memindahkan Pedro dari sana ke sayap kiri. Namun, Iniesta dan Fabregas sebagai pembagi bola yang lebih bermain ke depan dibanding Xavi, tidak memiliki bakat alami untuk menjadi penyelesai akhir. Jadilah Barca sangat sedikit melepaskan shot-on-target ke gawang Abbiati.
Keadaan yang demikian terjadi hingga menit ke-57 dimana Boateng mencetak gol dari bola liar hasil tendangan bebas Montolivo. Gol yang menyentak Barca tersebut disambut dengan pergantian pemain oleh Roura. Masuknya Sanchez menggantikan Fabregas dimaksudkan untuk menyelesaikan problem utama Barca di laga ini, yaitu kepada siapa bola harus diumpankan di kotak penalti lawan. Sanchez menjadi ujung tombak, dan Messi mengambil area yang ditinggalkan Fabregas.
Di sisi lain, merespon pergantian pemain oleh Barca, Allegri mengganti Pazzini dengan Niang M’Baye. Respek harus diberikan kepada Allegri dengan pergantian pemain ini. Masuknya Niang dan juga Bakaye Traore menggantikan Stephan El Shaarawy mengindikasikan bahwa Milan sebenarnya tidak sedang mencari aman walaupun dalam keadaan unggul. Walaupun masih terbilang muda, Niang dan Traore menempati posisi yang sama dengan pemain yang digantikannya dan tidak menambah jumlah penutup wilayah permainan Milan. Hal ini jelas berbeda dibandingkan beberapa tim yang pernah melawan Barca di Liga Champions musim-musim sebelumnya yang menggantikan penyerang ataupun gelandang serang dengan gelandang bertahan ataupun bek di saat mendapatkan keunggulan gol ataupun agregat.
Sangat disayangkan memang, sekalipun sudah melakukan pergantian pemain, Barca tidak mampu menambah ancaman serangannya. Ini bisa dibaca sebagai kondisi situasional dimana perubahan posisi trisula Barca terjadi di saat Milan sudah mendapatkan kepercayaan diri untuk menyerang dan keluar dari pertahanan. Secara perlahan ujung tombak Milan dilepas lebih jauh mengejar bola hingga mendekati kotak penalti Barca, sementara El-Shaarawy dan Boateng lebih berani mengolah bola dari sisi sayap. Montolivo dan Muntari secara bergantian naik dari tengah lapangan, hingga Muntari mendapatkan momen mencetak gol kedua Milan.
Masih ada putaran kedua. Semoga Barca mampu mempelajari kekalahan pada laga tersebut.
Visca Barca!
Kata kunci: AC Milan, Liga Champions 2012/2013

Pada Leg pertama 16 besar Liga Champions 2012/2013 AC Milan berhasil membungkam Barcelona dengan 2 gol yg tdk terbalas. Milan yang sementara unggul agregat dua gol, akan membuat Barcelona memikul tugas berat di leg kedua.
Pada Match dinihari tanggal 21 Februari di san siro ,sampai peluit tanda babak pertama berakhir score masi 0 0. Namun pada babak kedua ,Tuan rumah Milan berhasil merubah keadaan dan memastikan kemenangan atas sang raksasa Catalan lewat gol Kevin-Prince Boateng di awal babak kedua dan Sulley Muntari sembilan menit sebelum bubaran.
Tidak ada gol dari Stephan El Shaarawy untuk Milan maupun Lionel Messi untuk Barcelona, tapi El Shaarawy lebih baik dengan satu assist rancangannya.
Untuk mencegah Barcelona mengontrol possession, Massimiliano Allegri menurunkan Pazzini di lini depan sejak menit awal bersama El Sharaawy dan Boateng. Montolivo dipasang di tengah dengan dukungan dua gelandang petarung, kapten Ambrosini dan Muntari.
Pada squad Barcelona Pique dan kapten Puyol berada pada posisi di Lini belakang pertahanan Barcelona. Xavi yang dalam kondisi prima seperti biasa menjadi pengatur permainan team. Pedro menyisihkan Alexis Sanchez dari posisi starter dan melengkapi trisula lini depan Barcelona bersama Iniesta dan kolektor 56 gol Liga Champions, Lionel Messi.
Jalannya Pertandingan
Pada menit ke 5 Sulley Muntari melepaskan sebuah tendangan spekulasi dari jarak jauh . Tetapi arah bola masih belum tepat kesasaran dan tidak menyulitkan Victor Valdes.
Pada menit ke 9 Lionel Messi melepaskan tembakan di tepi kotak penalti, meski bola masih bisa dihadang pemain Milan. Dan sebuah umpan silang dari Jordi Alba juga dipotong Philippe Mexes.
Pada menit ke 16 Sebuah serangan cepat dari Milan membuat Stephan El Shaarawy lolos dari jebakan offside dan kawalan pemain barca. Namun bola masih bisa dibuang Carles Puyol. Sepak pojok Milan pun belum membuahkan apa-apa.
Pada menit ke 18 Xavi Hernandez melakukan tendangan jarak jauh namun meluncur ke arah sudut gawang Milan,Sehingga Christian Abbiati dengan mudah menangkapnya.
Pada menit ke 36 Dari sayap kanan Kevin Prince Boateng melepaskan umpan ke depan gawang. El Shaaraway mencoba menjangkau bola namun peluang itu masih gagal karena bola terbuang.
Pada menit ke 57 Milan memimpin diawali dari tendangan bebas, Muntari mengopernya ke Riccardo Montolivo yang langsung melepaskan tembakan keras dari luar kotak penalti. Bola kemudian mengenai Christian Zapata lalu mengarah ke Boateg,dan berhasil melewati Valdes, Gol tersebut menuai protes dari para pemain Barca yang menilai tangan Zapata sebelumnya sudah mengenai bola.
Pada menit ke 69. Seraya membelakangi gawang di bawah kawalan Gerard Pique, Giampaolo Pazzini menahan bola dan kemudian jungkir balik melepaskan tembakan . Tetapi bola dengan mudah bisa dikuasai Valdes.
Pada menit ke 77 Iniesta mendapatkan peluang pada ruang tembak dan menyepak keras-keras bola dari luar kotak penalti, namun sayang arahnya masih melebar dari gawang Milan.
Pada menit 80 Xavi Hernandez melakukan tendangan bebas dari posisi cukup bagus, sayang tendangan Xavi melingkar ke arah atas mistar gawang Milan sehingga belum tepat sasaran.
Pada menit ke 81 Milan menggandakan keunggulan . Mbaye Niang yang masuk sebagai pemain pengganti berhasil memenangi bola di kotak penalti bola lalu mengopernya arah El Shaarawy di tengah. Kemudian melambungkan ke arah kiri diterima Muntari dan berhasil menjebol gawang Valdes.
Sampai akhir babak kedua Barcelona berusaha mengejar atau setidaknya mendapatkan gol away, tapi skor 2-0 untuk kemenangan Milan tak berubah hingga peluit panjang.
Untuk sementara, Milan mengantongi keunggulan agregat dua gol, modal yang sangat berharga untuk melakoni leg kedua di Camp Nou 13 Maret mendatang.
Susunan pemain Milan: Abbiati; Abate, Mexes (kuning 25′), Zapata, Constant; Montolivo, Ambrosini, Muntari; Boateng; Pazzini (Niang 75′), El Shaarawy (Traore 88′ – kuning 90′).
Cadangan: Amelia, De Sciglio, Yepes, Traore, Christante, Niang, Bojan.
Susunan pemain Barcelona: Valdes; Alves, Pique (kuning 57′), Puyol (Mascherano 88′), Alba; Xavi, Busquets (kuning 54′), Cesc (Alexis Sanchez 62′); Pedro, Messi, Iniesta.
Cadangan: Pinto, Mascherano, Montoya, Thiago Alcantara, Song, Alexis Sanchez, Tello
Kata kunci: Carles Puyol, UCL 2012-2013, Victor Valdez, Xavi Hernandez

Tak ada habisnya jika kita membicarakan dunia sepak bola. Dari masa ke masa seolah-olah olahraga yang satu ini tidak akan pernah hilang di telan zaman. Sejak kehidupan kita memasuki era modern yang serba teknologi, dunia sepak bola pun ikut merambah ke ranah teknologi. Siapa yang tidak tahu Play Station? Sebuah game konsol yang sedang marak digandrungi oleh gamers di seluruh dunia. Game konsol ini tidak hanya digemari oleh para fans sepak bola atau masyarakat biasa saja, para pemain sepak bola bahkan Messi seorang pemain sepak bola terbaik dunia selama 4 tahun berturut-turut pun sangat gemar memainkan game konsol yang satu ini. Salah satu game yang paling populer yang berbasis sepak bola adalah Pro Evolution Soccer (PES), yang sejak akhir tahun 2012 lalu meluncurkan update terbarunya yaitu PES 2013.
FCBI Regional Bandung dalam hal ini sejalan dengan perkembangan dunia sepak bola yang merambah dunia teknologi mencoba membuat satu kompetisi PES 2013 untuk game konsol Play Station 3. Setelah sukses menggelar PES 2013 Competition di awal tahun ini tepatnya pada tanggal 12 Januari 2013, yang sekaligus menjadi event pertama FCBI Regional Bandung di tahun 2013. Kali ini, FCBI Regional Bandung kembali menggelar PES 2013 Competition. Dengan format yang tidak jauh berbeda seperti kompetisi pertama, kali ini PES 2013 Competition masuk ke dalam rangkaian event besar International Football Fans Club Association Bandung (IFFA Bandung), sebuah asosiasi yang menaungi fans club sepak bola di Kota Bandung.

Suasana FCBI Bandung PES 2013 Competition
IFFA Bandung menggelar event besar di tahun ini termasuk diantaranya kompetisi PES 2013. Namun sebelum kompetisi PES 2013 yang IFFA Bandung selenggarakan di mulai, seluruh fans club sepak bola yang terdaftar di IFFA Bandung menggelar kompetisi internal terlebih dahulu. Dengan tagline kompetisi “Road To IFFA”, setiap fans club membuat satu format kompetisi PES 2013 untuk membernya masing-masing. Sejalan dengan hal ini, FCBI Regional Bandung pun menggelar PES 2013 Competition pada hari Sabtu, 16 Februari 2013 yang lalu yang bertempat di SWITCH PS3 Cafe (Sekretariat FCBI Regional Bandung).
Format yang digunakan untuk kompetisi ini tidak jauh berbeda dengan sebelumnya. Dengan format seperti FIFA World Cup atau UEFA Euro Cup, peserta dibagi ke dalam beberapa grup untuk babak penyisihan, dilanjutkan ke fase knock out hingga menuju final. Hanya jumlah peserta saja yang berbeda. Jika kompetisi yang pertama pada tanggal 12 Januari lalu jumlah peserta adalah 32 orang, kali ini kuota peserta hanya 16 orang. Namun, perbedaan jumlah peserta tidak mengurangi sengitnya kompetisi. Apalagi di antara peserta terdapat juara bertahan kompetisi PES 2013 sebelumnya yaitu Doni yang akhirnya menjadi juara kembali di kompetisi kali ini.

Juara & Runner Up FCBI Bandung PES 2013 Comeptition bersama perwakilan IFFA (kiri) dan perwakilan panitia (kanan)
Sesuai dengan regulasi IFFA Bandung, setiap juara dan runner up kompetisi di masing-masing fans club berhak mewakili fans clubnya untuk kompetisi final yang diselenggarakan IFFA. Doni dan Ricky, juara dan runner up FCBI Regional Bandung PES 2013 Competition Road To IFFA terpilih untuk mewakili FCBI Regional Bandung. Dua orang sahabat yang memang sangat menggeluti permainan PES sejak lama hingga saat ini.
Memang banyak cara untuk menunjukkan bagaimana kecintaan kita pada sepak bola. Salah satunya adalah dengan memainkan game yang berbasis sepak bola seperti PES 2013 ini. Itulah yang dilakukan mereka demi menunjukkan kecintaannya pada sepak bola. Terlebih lagi, team club yang digunakan dalam kompetisi adalah FC Barcelona. Ada perasaaan puas dan bangga di dalam hati ketika kita memainkan team club yang kita cintai dengan pemain-pemain bola yang kita cintai di dalamnya. Apalagi saat kita mendapatkan gelar juara dalam suatu kompetisi.

Panitia FCBI Bandung PES 2013 Competition
Juara dan runner up kompetisi ini juga mendapatkan hadiah berupa uang tunai dan merchandise yang disponsori langsung Djarum Super Soccer. Dalam beberapa bulan ke depan, seluruh perwakilan dari tiap-tiap fans club akan bertemu di kompetisi final PES 2013 IFFA Bandung dan memainkan team club kebanggaannya masing-masing. Apakah Doni dan Ricky sebagai perwakilan FCBI Regional Bandung akan membawa FCBI Regional Bandung menjadi champion di kompetisi IFFA dengan FC Barcelona yang mereka mainkan? Akankah mereka bisa membuktikan tidak hanya di dunia nyata, namun dalam game konsol bahwa FC Barcelona memang team club sepak bola terbaik di antara club-club yang lainnya? Kita tunggu bagaimana aksi mereka di kompetisi final PES 2013 IFFA Bandung.
Kontributor : @FCBI_Bandung
Kata kunci: FCBI Bandung, Regional FCBI