Visca Barca,
Selamat datang di web FC.Barcelona Indonesia bagi pecinta sepakbola khususnya para penggemar Barcelona. Maksud dan tujuan website ini adalah untuk mempererat tali persaudaraan sesama pendukung Barcelona dalam berinteraksi, berbagi info dan berdiskusi mengenai berbagai hal menyangkut klub kebanggaan kita bersama. Forum yang ada juga kami upayakan agar bisa menjadi sarana one stop shopping bagi para pendukung untuk mengakses berbagai macam hal mengenai FC.Barcelona, kami menyadari masih banyak kekurangan dan berbagai perbaikan yang mungkin masih perlu dilakukan demi penyempurnaan website kita bersama ini, saran dan kritikan akan kami terima untuk kebaikan website ini.
Semoga website ini bermanfaat bagi kita sesama para penggemar Barcelona dan kecintaan kita terhadap sepakbola. Sekian dan terima kasih.
FIDELITAT BLAUGRANA SENSE LIMITS, SOMOS LOS MEJORES, VISCA BARCA.
Kata kunci: alez, Dani Alves, David Villa, La Liga 2012/2013, mess
Setelah berhasil comeback dengan sempurna pada leg 2 babak 16 besar Liga Champions pada Selasa, 12 Maret 2013 malam waktu setempat, Barca kini dihadapkan dengan pertarungan selanjutnya di ajang La Liga jornada 28 melawan Rayo Vallecano. Pasukan Roura kini hanya berjarak 10 poin dengan peringkat dua, Real Madrid yang telah melakoni jornada 28 tadi dinihari dengan raihan angka penuh melawan Mallorca (5-2). Hal ini yang harus diwaspadai oleh Roura jika tidak ingin terpeleset di akhir musim, pasalnya tahta juara sama sekali belum terkunci sepenuhnya. Kemenangan demi kemenangan harus didapatkan Azulgrana demi tetap menjaga asa untuk mengembalikan tropi La Liga ke Camp Nou.
Para pemain kini telah melupakan sejenak ajang UCL (euforia kemenangan dan lawan selanjutnya, PSG) dan fokus kepada pertandingan nanti malam. Pertandingan ini juga akan menyulitkan Barca dikarenakan absennya 3 pemain kunci profesional dan penuh pengalaman – Puyol, Xavi, dan Valdes. Puyol absen pada laga ini pasca operasi lutut kanannya pada Jum’at yang lalu. Sabtu siang kemarin, doktor klub, Dr Ramon Cugat dan Dr Ricard Pruna memberi informasi bahwa masa pemulihan Puyol akan memakan waktu satu setengah, dua, hingga tiga bulan lamanya. Pada sesi makan siang kemarin tersebut, doktor klub juga menyampaikan bahwa Abidal sudah cukup pulih dan sangat bersemangat untuk kembali merumput sehingga dalam waktu dekat kita akan melihatnya di daftar skuad. Sementara Xavi masih dalam tahap pemulihan dari cedera hamstringnya. Sedangkan Valdes masih menjalani larangan tampil karena protes kerasnya ke wasit usai laga melawan Real Madrid beberapa waktu yang lalu. Pinto dipastikan akan menjadi penghuni mistar gawang Barca untuk laga malam nanti. Untuk kiper cadangan, nama Oier Olazábal dari Barca B akan mengisi bench yang pekan lalu (melawan Deportivo) posisi ini diisi oleh Jordi Masip.
Dari sisi pertandingan sendiri, anak-anak asuh Paco Jamez (pelatih Rayo Vallecano) tentu tidak ingin datang ke Camp Nou hanya untuk memberi poin penuh kepada tuan rumah. Tim yang telah mengoleksi 41 poin itu kini sedang menduduki peringkat 9 klasemen sementara La Liga. Satu poin dari Barca pada laga ini akan menjadi modal berharga bagi Rayo untuk mencapai posisi tengah demi mendapatkan jatah bermain di kompetisi Eropa pada musim besok. Keuntungan juga menghampiri Barca pada pertandingan nanti malam, pemain penting di tim Rayo – Casado, Javi Fuego, dan Leo Baptistao akan absen pada pertandingan ini. Kabar akan kembalinya Tito Vilanova ke tim pada akhir bulan ini, menjadikan laga melawan Rayo adalah laga terakhir Jordi Roura memimpin tim di pinggir lapangan pertandingan.
Untuk formasi Barca sendiri, 4-3-3 masih menjadi prioritas utama Roura. Jose Pinto dipastikan akan menjadi penjaga bawah mistar tim Barcelona pada laga nanti terkait absennya Valdes. Pique dan Mascherano akan menjadi pelapis dari Pinto di sentral pertahanan. Dani Alves, dengan gaya rambut barunya, bersama Adriano/Alba akan menjadi pengisi posisi sayap pertahanan The Catalans. Maju ke lini tengah, Busquets atau Song akan mengisi posisi gelandang bertahan. Untuk gelandang serang, Thiago kemungkinan akan mengisi pos yang ditinggalkan Xavi dan meletakkan Cesc di posisi asli Iniesta dengan opsi Don Andres ini maju ke sisi kiri penyerangan atau diistirahatkan Roura. Opsi lain yaitu memberi kesempatan kepada Cesc Fabregas untuk mengisi posisi Xavi dan Iniesta di posisi aslinya, sehingga memberikan tempat tiga penyerang di depan. Untuk lini depan, Pedro-Messi-Villa kemungkinan dipasang oleh Roura sebagai starter. Semoga Barca bisa melanjutkan tren positifnya dan raih poin penuh. Visca Barca!
La Liga Jornada 28
FC Barcelona – Rayo Vallecano
Venue : Camp Nou (99,786)
Wasit : Jose Gonzalez
Stasiun TV : Trans TV
Perkiraan formasi:
FC Barcelona (4-3-3) : Pinto, Alves-Pique-Mascherano-Adriano, Cesc-Busquets-Iniesta, Pedro-Messi-Villa
Kata kunci: La Liga 2012-13, Rayo Vallecano
Sebuah formasi yang tak lazim dimainkan FC Barcelona di musim ini, akhirnya disuguhkan dalam laga super penting, putaran kedua babak 16 besar Liga Champions 2012/13. Bila kita batasi definisi tim besar dari Spanyol adalah tim yang pernah merengkuh minimal satu piala di tanah Spanyol ataupun di benua Eropa dalam sepuluh tahun terakhir, tak sekalipun di sepanjang La Liga musim ini Barca meladeni Real Madrid CF, Atletico Madrid, Valencia dan Sevilla sebagai kelompok tim besar tersebut dengan starting-eleven seagresif yang ditampilkan saat menjamu AC Milan hari Selasa, 12 Maret 2013, malam waktu setempat. Begitupun di ajang Liga Champions. Hingga matchday 7 saat dibekuk Rossoneri 2-0, Barca masihlah konservatif soal cara penempatan pemain dan alur serangan.
Barca memulai pertandingan dengan belajar dari kesalahan di tiga kekalahan menyesakkan dari Milan (20 Februari 2013) serta Madrid (26 Februari dan 2 Maret 2013). Dari seluruh kekalahan tersebut, statistik mengindikasikan Barca gagal mengembangkan permainan karena terlalu mudah dibaca lawan. Berkaca dari banyaknya kebobolan (7 gol) dan minimnya gol yang dicetak (2 gol) dari ketiga kekalahan tersebut, Jordi Roura sebagai pendamping pasukan Biru Merah di pinggir lapangan mengorganisasi pemainnya dengan cara berbeda. Tidak murni kejutan memang, karena gambaran besar perubahan tersebut sudah pernah ditampilkan pendahulunya, Josep ‘Pep’ Guardiola dan Frank Rijkaard. Namun, untuk ukuran musim berjalan, ini adalah sebuah kejutan.
Keputusan penting pertama Roura adalah dengan menganulir kebiasaan Barca yang menempatkan bintangnya, Lionel Messi, sebagai penyerang tengah. Dengan kekhasan Messi untuk menggiring bola dalam beberapa sentuhan, giringannya seringkali sudah dijepit salah satu bek tengah lawan serta gelandang bertahan saat masih jauh dari kotak penalti lawan. Maka untuk memaksimalkan peran Messi, ada dua pilihan yang bisa dilakukan Roura, menggesernya ke posisi lamanya sebagai sayap kanan atau menarik mundur Messi dan menempatkan seorang penyerang tengah di depannya. Pilihan yang kedua akhirnya diambil Roura dengan skenario bahwa Barca akan menggiring bola dari sayap hanya sampai saat menyentuh sepertiga pertahanan terakhir Milan. Setelahnya bola diumpan lambung ke tengah kotak penalti sambil berharap muntahannya jatuh ke pemain Barca, atau bola disodorkan kembali ke tengah sambil melihat celah yang timbul saat para pemain Milan bergeser. Disinilah peran Messi, berada di belakang penyerang tengah untuk memimpin para gelandang serang menangkap bola-bola liar di sekitar kotak penalti Milan.

Roura menempatkan Messi di belakang David Villa dengan maksud mengganggu konsentrasi bek tengah Milan agar tidak terlalu berfokus pada Messi. Sesungguhnya Villa sendiri juga kadang bergeser ke area pertahanan kiri lawan. Bedanya, bila pada tiga kekalahan terdahulu, Pedro Rodriguez lebih banyak bertugas menjemput bola wilayah lewat lari cepatnya di area tersebut, kini Villa lebih berperan sebagai target-men saat umpan Dani Alves bersifat pendek menuju kotak penalti Milan. Satu perbedaan berikut, dengan sifat alami Villa sebagai finisher, sekalipun bergeser ke kanan untuk membuka ruang bagi Messi, ia tetap berpedoman untuk menginjakkan kakinya di dekat kotak penalti Milan saja, sedangkan Pedro selama ini lebih banyak beredar mendekati garis lemparan ke dalam.
Yang stabil dari trio Villa-Messi-Pedro pada malam itu hanyalah posisi Pedro yang dipakemkan di sektor kanan pertahanan Milan. Sedangkan Messi dan Villa lebih sering terlihat bertukar tempat. Saat Messi naik, Villa sedikit bergeser ke kanan. Tiga gol pertama Barca menunjukkan hal ini. Contohnya saat gol kedua Messi, posisi ketiga penyerang tersusun sebagai Messi-Villa-Pedro, dimana bila dilihat dari sisi horizontal, Messi masih lebih jauh dari gawang Christian Abbiati dibanding Villa sebagai penyerang tengah. Nah, untuk mencetak golnya sendiri, posisi Villa pada saat itu adalah di dalam kotak penalti Milan dimana ia menjadi pemain paling kanan diantara trio tersebut.
Keputusan penting kedua yang ditunjukkan oleh Roura adalah dengan keberaniannya mengorbankan Fabregas. Fabregas pemain bagus, namun dengan naluri menyerang yang lebih tinggi dibanding Xavi Hernandez, Roura lebih memilih nama terakhir dengan alasan kemampuannya yang lebih baik dalam mengatur tempo. Keputusan mengorbankan Fabregas juga dalam rangka mensinkronkan dengan perubahan yang terjadi di sektor belakang.

Keputusan ketiga terjadi di lini belakang. Tak ada kejutan dalam hal nama pemain yang diturunkan Roura. Hanya satu yang berbeda, ‘format miring’ diraciknya dengan mendorong Alves sebagai sayap kanan. Fungsi ini terakhir kali diperankan dengan sukses oleh Alves saat Barca membalikkan keunggulan Sevilla di babak kedua pada jornada 25 yang digelar 23 Februari 2013 lalu. Bedanya, kali ini Barca menghadapi dua resiko sekaligus, yakni ruang kosong yang ditinggalkan Alves di kanan serta naluri Jordi Alba untuk naik menyerang dari kiri. Sementara pada saat melawan Sevilla, naiknya Alves tidak terlalu merisaukan karena Barca memasang Martin Montoya di pos yang biasa diisi Alba. Karakter Montoya yang lebih kuat dalam hal bertahan ini kurang lebih mirip dengan penempatan Olleguer Presas di zaman Rijkaard ataupun Eric Abidal di zaman Pep. Mereka diposisikan sebagai bek sayap, namun tidak diorientasikan untuk naik membantu serangan.
Ketiga keputusan penting Roura ini merupakan satu kesatuan. Keputusan Roura memakukan posisi Pedro di sisi kiri tak lain untuk menjaga porsi kecepatan yang seimbang antara sisi kiri dan kanan. Dengan Alves menawarkan lari cepatnya dari sayap kanan Barca, hadirnya Pedro dari sisi berseberangan akan menegaskan pencarian alternatif serangan dari kedua sisi pada saat serangan dari sektor tengah mentok.
Masih terkait dengan Alves. Dengan naiknya posisi bek asal Brasil tersebut, Barca perlu seseorang yang benar-benar mampu mengatur tempo untuk menunggu Stephan El Shaarawy melupakan intipan mautnya pada celah yang ditinggalkan Alves di pertahanan Barca. Beberapa kali terlihat umpan satu dua dilakukan Barca hanya di sekitar garis tengah saja sambil memapankan posisi serang Alves dan menunggu Il Faraone ikut mundur mengawal pertahanan Milan. Skenario seperti inilah yang lebih masuk akal untuk memahami mengapa Fabregas tidak dimainkan bahkan hingga pertandingan usai. Roura pun menjadikan Xavi sebagai pengatur tempo tersebut.

Luar biasa. Segunung resiko yang terpapar lewat keputusan-keputusan penting di atas berhasil dilakoni Barca dengan penuh kesabaran untuk membuka pertahanan Milan. Di pihak lain, Massimiliano Allegri melakukan beberapa kesalahan.
Pertama, keputusannya memainkan Mathieu Flamini dibandingkan Sulley Ali Muntari tampaknya didasarkan pada antisipasinya terhadap tampilnya Fabregas di pihak Barca. Hal ini cukup masuk akal melihat pergerakan Fabregas selama ini yang tidak sama banyaknya antara ke arah kanan dan ke kiri. Di Barca, Fabregas lebih cenderung bermain ke depan di sekitar sektor kiri Barca, hal mana sangat cocok dengan wilayah penjagaan oleh Flamini di Milan. Mungkin Allegri berpikir Flamini akan mampu mengawal mantan kompatriotnya di Arsenal tersebut. Namun nyatanya, Barca tidak memainkan Fabregas sama sekali.
Keberadaan Flamini di lapangan hingga digantikan oleh alumni La Masia, Bojan Krkic, di menit ke-74, patut dipertanyakan. Bila kita melihat proses terjadinya ketiga gol Barca, idealnya terlihat peran aktifnya dalam menutup para pencatat assist dari gol-gol tersebut. Hal lain terkait cedera yang menyebabkan kepalanya harus diperban sejak pertengahan babak pertama, menjadikan sebuah teka-teki soal kelugasannya menjalankan tugas menutup pertahanan Milan.
Riccardo Montolivo, yang pada malam itu ditugaskan Allegri di pos Muntari, terlihat kewalahan dengan rajinnya Alves naik dari sisi sayap. Alih-alih menjalankan fungsi Muntari yang di laga pertama berperan roaming mengawal Xavi atau Lionel, Montolivo malah acap kali kehilangan posisi ataupun bola dalam kepungan para pemain Barca di areanya.

Kedua, pengaturan pemain di lini depan Milan tidak menunjukkan akurasi berhitung oleh Allegri. Keputusannya memainkan Niang M’Baye sebagai penyerang tengah tidak berjalan efektif. Karakter Niang memang cocok untuk mengejar bola yang dikirim jauh dari belakang, namun dengan fakta bahwa Barca pun ternyata terus memepet Milan saat Milan masih mengolah bola di pertahanannya sendiri, Niang akhirnya beberapa kali terlihat turun menjemput bola.
Masuknya Robinho dan Muntari menggantikan Niang dan Massimo Ambrosini pada menit ke-60 langsung membawa dampak positif bagi Milan. Dalam keadaan tertinggal satu gol secara agregat, Robinho menunjukkan ide-ide baru dalam membuka pertahanan Barca, sementara Muntari memberikan semangat bertarung yang sebelumnya tak terlihat dari para pemain Milan. Mungkin bila dalam hitung-hitungannya Allegri memutuskan lebih awal memainkan mereka berdua, keseimbangan permainan dari sisi Milan akan terwujud lebih awal pula.
Milan semakin gencar menyerang dengan menukar satu slot gelandang pada diri Flamini menjadi penyerang lubang yang diisi oleh Bojan. Pola 4-2-3-1 ini sukses menambah daya gempur Milan. Walau tidak ada shots-on-goal yang berbahaya, namun sesungguhnya terdapat beberapa kreasi Milan yang mampu masuk ke kotak penalti Barca. Untungnya beberapa pemain Barca, seperti Sergio Busquets ataupun Alba secara bergantian berada di posisi yang tepat untuk menutup ruang tembak oleh Milan.
Di menit ke-84, Roura memutuskan lebih memperkuat pertahanan dengan memasukkan Adriano Correia menggantikan Pedro. Ini terutama mengantisipasi Ignazio Abate yang sudah memantapkan posisinya di area permainan Barca pada lima belas menit terakhir pertandingan. Dengan masuknya Adriano, ditambah dinormalkannya kembali posisi Alves setelah gol ketiga oleh Villa, Barca sebenarnya lebih banyak diserang pada periode ini. Gol keempat oleh Alba adalah pengecualian karena dimulai dari sebuah serangan balik yang bukan merupakan tradisi Barca dalam mencetak gol.
Walau menang, Barca tetap perlu waspada di pertandingan-pertandingan berikutnya. Perlu diingat, sekalipun diciptakan dalam skenario open-play, gol-gol Barca juga tak bisa dipisahkan dari sapuan tak bersih pemain Milan. Misalnya untuk gol kedua. Sebelum menyodorkan bola bagi Messi, bola yang didapat Andres Iniesta sebenarnya berasal dari cungkilan gagal oleh Ambrosini. Bola jatuh dalam kawalan Iniesta, sekali kontrol ia pun melepaskan umpan pendek bagi Messi yang berdiri dalam jarak aman dari kawalan Philippe Mexes.
Begitu juga pelajaran dari satu-satunya peluang emas Milan lewat Niang. Antisipasi bola lambung oleh Javier Mascherano sempat mengingatkan kita pada proses yang kurang lebih sama dengan gol pertama Madrid pada laga putaran kedua Piala Super Spanyol bulan Agustus lampau. Kala itu Mascherano keliru dalam mengukur titik jatuh bola lambung oleh Pepe yang berujung gol oleh Higuain. Kali ini tiang kiri gawang Victor Valdes menyelamatkan Barca. Situasi psikologis pertandingan jelas akan berbeda bila pantulan bola tersebut mengarah ke sisi dalam gawang.
Selamat, Roura! Terima kasih, Barca! Teruskan sampai di Wembley! Som Un Equip!
Visca Barca!
Kata kunci: AC Milan, Jordi Roura, Liga Champions 2012/13

Perkembangan dunia olahraga sepakbola khususnya futsal sudah sangat berkembang pesat. Apalagi di Kota Pelajar ini Yogyakarta. Apresiasi turnamen ini sangat besar dari pemerhati dan pecinta olahraga. Kami menggagas kejuaraan ini menjadi open turnamen untuk kategori antar fakultas di Yogyakarta.
Dalam rangka memperingati ulang Tahun FCBI Yogya ke 1 yang jatuh pada tanggal 23 Maret 2013. Kami menyelenggarakan Turnament Futsal FCBI Yogya CUP 2013 yang digelar pada tanggal 30-31 Maret 2013 di Lapangan Tifosi Futsal – Jl Sukonandi no.11B semaki Kulon Umbulharjo Jogja. Yang diikuti 32 tim antar Fakultas di Yogyakarta.
Kompensasi Juara:
Juara I
Uang pembinaan 2.000.000
Piala, Piagam / sertifikat
Juara II
Uang pembinaan 1.250.000
Piala, Piagam / sertifikat
Juara III
Uang pembinaan 750.000
Piala dan Piagam
Juara IV
Uang pembinaan 300.000
Piala dan Piagam
TOP SCORE : 250.000
BEST PLAYER : 250.00
Supporter Terbaik : 200.000
Jadi tunggu apalagi, segera daftarkan tim kalian. Dan dapatkan segala keseruan, keasyikan dan keramean turnamen futsal bersama kami Fans Club Barcelona Indonesia regional Jogjakarta.
Kontributor : @FCBI_Yogya
Kata kunci: FCBI Yogyakarta, Regional FCBI

Berturut-turut event Nonton Bareng dengan skala yang besar digelar FCBI Regional Bandung. Dimulai dengan Nonton Bareng Barcelona yang bertandang ke Milan di San Siro dalam 1st leg Babak Perdelapan Final UEFA Champions League (UCL) bersama Milanisti Indonesia sezione Bandung (MIsB). Event Nonton Bareng yang terbilang besar di Bandung yang bertempat di GOR C-Tra Arena, salah satu gedung olah raga terbesar di Bandung.
Setelah diselingi dengan 2 kali berturut-turut event Nonton Bareng El Clasico dalam laga Copa Del Rey dan La Liga, FCBI Regional Bandung bersama dengan MIsB kembali menggelar event Nonton Bareng 2nd leg Babak Perdelapan Final UCL Barcelona yang menjamu AC Milan di Camp Nou tepat pada hari Rabu, 13 Maret 2013 waktu Indonesia bagian barat. Nonton Bareng yang digelar di tempat yang sama yaitu GOR C-Tra Arena yang memiliki kapasitas ribuan orang. Dengan kapasitas seperti ini bisa terbayangkan suasana yang akan tercipta di dalam GOR layaknya di sebuah stadion sepak bola. Tribun-tribun dipenuhi banyak orang dan ber-chant ria. Sorak sorai dukungan untuk tim kebanggaan masing-masing bergemuruh di seluruh sudut GOR C-Tra Arena.

Di 1st leg Babak Pedelapan Final UCL, AC Milan berhasil mengalahkan FC Barcelona dikandangnya. Kesedihan dan kekecewaan dirasakan oleh seluruh cules yang hadir di event Nonton Bareng saat itu. Letih, lelah, suara yang serak karena sepanjang pertandingan terus mengeluarkan chant-chant tak bisa terbayarkan karena Barcelona kalah. Tak tanggung-tanggung 2-0 AC Milan membombardir gawang FC Barcelona saat itu. Sebagian tetap optimis, sebagian merasa pesimis jika Barcelona bisa lolos dari babak perdelapan final.
Namun, ternyata rasa pesimis itu pudar ketika di 2nd leg Barca yang menjamu Milan di Camp Nou berhasil comeback dengan hasil yang fantastis. Messi yang berhasil mencetak gol 5 menit setelah kick off babak pertama berhasil menyihir seluruh cules yang hadir di GOR C-Tra Arena. Teriakan, chant, tepuk tangan dan berbagai ekspresi dikeluarkan. Timbul rasa optimis yang begitu besar saat Messi bisa kembali mencetak gol. Dan terbukti hingga akhir pertandingan cules FCBI yang memenuhi GOR C-Tra tak henti-hentinya menyanyikan chant-chant Barcelona. Pertandingan yang diakhiri dengan skor fantastis 4-0 dan aggregate 4-2 untuk Barcelona. Super! Fantastis! Mengagumkan!

Ya, Barcelona kembali mengagumkan hingga bisa memenangkan pertandingan dan membalikkan aggregate. Begitu pun cules FCBI yang hadir di GOR C-Tra, mengagumkan karena sejak 1st leg hingga 2nd leg UCL ini mereka tetap setia mendukung dan menyuarakan dukungannya lewat chant saat Nonton Bareng. Jika saat kalah saja kita bisa tetap semangat, apalagi saat menang seperti ini. Semangat dan aura yang benar-benar tidak bisa terungkapkan kata-kata. It was feel like watching FC Barcelona in Camp Nou.
Ada perbedaan yang cukup signifikan dari dua event Nonton Bareng UCL Barcelona-Milan ini. Dari segi persiapan, Nonton Bareng di 2nd leg ini lebih matang. Panitia yang terdiri dari para pengurus FCBI Regional Bandung dan MIsB menyiapkan berbagai properti untuk mendukung acara. Berbagai banner untuk fans club masing-masing mau pun untuk tim yang didukung. Selain itu ada pula koreo yang membentuk bendera Catalan sebelum pertandingan dimulai untuk FCBI, dan bendera Milan untuk MIsB. Flare yang menyala-nyala di awal pertandingan disertai dengan dikumandangkannya hymne masing-masing tim. Flare pun dinyalakan di setiap gol yang tercipta dalam pertandingan. Ada yang special pula untuk MIsB di Nonton Bareng 2nd leg UCL ini. MIsB merayakan ulang tahun Milanisti Indonesia yg ke-10. Secara langsung FCBI Regional Bandung beserta regional lainnya yang hadir (Jakarta, Sukabumi, Bogor, Tg. Pinang, Subang, juga BoixosNois Bandung) ikut merayakan perayaan ini. Sungguh sebuah tanda respect terhadap kawan kita sesama fans club sepak bola. Selamat ulang tahun Milanisti Indonesia.

Jika kita lihat dari review kegiatan ini, event Nonton Bareng 2nd leg ini mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Selain perbedaan-perbedaan yang lebih baik dari 1st leg, Barcelona pun berhasil memenangkan pertandingan dan lolos ke babak 8 besar. Sungguh nilai plus bagi kesuksesan event Nonton Bareng ini. Acara ini bisa terselenggara dengan lancar atas dukungan dan sumbangsih dari berbagai pihak yang terkait. Pihak pengelola tempat GOR C-Tra Arena, Sponsor utama Event Nonton Bareng yaitu My Super Soccer dan sponsor-sponsor lainnya seperti Verve Baselayer, WaroengBarca, dll. Tak lupa dari pihak internal security, TNI dan POLRI yang juga ikut memberikan waktu, tenaga dan pikirannya untuk keamanan selama Nonton Bareng. Dengan kata lain, event Nonton Bareng FCBI Regional Bandung bersama Milanisti Indonesia sezione Bandung ini sukses besar. Sesuai dengan slogan FCBI Regional Bandung, “BISA!! BISA!! BISA!!”. Event Nonton Bareng ini pun BISA terlaksana dengan sukses tanpa ada kendala yang berarti, dan Barcelona pun BISA memenangkan pertandingan dan BISA lolos ke babak 8 besar. ViscaBarca, Visca FCBI y Visca FCBI Bandung. Remuntada FC Barcelona, FCBI Bandung BISA!! BISA!! BISA!!.
Kontributor : @FCBI_Bandung
Kata kunci: FCBI Bandung, Regional FCBI